Sunday, February 19, 2017

SEJARAH DAN ASAL USUL KOTA TEMANGGUNG




Kota Temanggung berada di Kabupaten Temanggung. Kota ini menjadi pusat pemerintahan dari daerah tersebut. Perkembangan kota ini banyak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan alam yang subur di wilayah sekitarnya. Daerah sekitar bukannya justru menjadi hinterland yang dapat diabaikan begitu saja. Kabupaten Temanggung terkenal dengan beragam hasil bumi yang memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan hasil bumi yang sama di daerah lainnya. Kota ini pun mendapatkan “hidup” daru kemampuan menciptakan ketekaitan dengan wilayah sekitarnya ini, misalnya dengan menjadi pusat administrasi pemerintahan daerah maupun menjadi pusat koleksi dan distribusi dari hasil bumi yang diproduksi oleh sekitarnya.




Panorama pegunungan yang dapat dinikmati dari sela-sela bangunan di tengah Kota Temanggung
Panorama pegunungan yang dapat dinikmati dari sela-sela bangunan di tengah Kota Temanggung
Dibandingkan dengan kota-kota lain di Jawa Tengah, Temanggung ditempatkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL). Secara kawasan, Kota Temanggung berada di dalam kawasan yang dikategorikan dalam perkembangan stagnan. Dengan membandingkan kondisi kota ini lima tahun lalu, nampak pertumbuhan secara fisik tidak berlangsung pesat. Namun, secara perlahan kota ini berbenah dengan cara mengembangkan sektor-sektor basis lainnya, diantaranya jasa keuangan dan pariwisata.

Sejarah Kota
Sejarah kota ini dapat dirunut jauh sebelum dinasti Mataram Islam. Keberadaannya sekarang tidak dapat dilepaskan dari sejarahnya tersebut. Konteks sosial politik yang berkembang saat itu mempengaruhi posisi strategis kota, meskipun kondisi fisik geografisnya turut berkontribusi, terutama dalam tahap perkembangan saat ini. Dimulai pada pertengahan abad ke-IX, dibuat Prasasti Wanua Tengah yang menceritakan perubahan status tanah di Desa Wanua Tengah (sekarang disebut Desa Wanua Tengah di Kec. Bulu di sebelah barat kota), yang semula merupakan tanah perdikan atau tanah Simah yang mendapat kebebasan pajak. Perubahan status tanah ini terkait dengan persembahan kepada biara di Pikatan oleh Rakai Panangkaran, berlokasi 3 km dari pusat Kota Temanggung. Permukiman pun tumbuh di daerah ini yang secara perlahan menjadikan daerah sekitarnya menjadi berkembang. Daerah lainnya yang turut berkembang menjadi kota di Kabupaten Temanggung adalah Parakan, yang terletak di sebelah timur Kota Temanggung. Desa ini mulanya berasal dari kata “marak” yang didirikan oleh Prabu Benowo.
Pada pemerintahan Sultan Agung (1613 – 1645), daerah Kedu termasuk ke dalam Jawi Rangkah yang dibagi menjadi 2 bagian. Sebagian dari daerah tersebut disebut sebagai Siti Bumi dan sebagian lagi sebagi Siti Bumijo. Kota Temanggung berada di dalam Siti Bumi. Tahun 1827, Raden Ngabehi Jayanegara menjadi bupati di Menoreh menurut pengangkatan oleh pemerintah Hindia Belanda. Sementara itu, Temanggung menjadi ibukota dari Menoreh. Selanjutnya Temanggung memiliki Asisten Residen dengan pertimbangan keamanan. Pada tahun 1834, Asisten Probolinggo dipindahkan ke Kabupaten Menoreh yang berubah menjadi Kabupaten Temanggung. Tahun-tahun berikutnya adalah saat-saat daerah ini memperoleh status otonominya dengan Kota Temanggung menjadi salah satu dari dua kawasan perkembangan yang berkembang, yaitu Temanggung dan Parakan.
Tugu Tani yang berada di alun-alun Kota Temanggung menunjukkan keunggulan produksi pertanian di Kab. Temanggung
Tugu Tani yang berada di alun-alun Kota Temanggung menunjukkan keunggulan produksi hasil pertanian di Kab. Temanggung
Pada masa kolonialisme Belanda, pemerintah Hindia Belanda menjadikan Kota Temanggung sebagai pusat pemerintahan dari Keresidenan Menoreh. Pemerintah Hindia Belanda juga membangun jaringan drainase yang keberadaanya sampai saat ini masih dapat ditemukan. Jaringan ini juga masih dimanfaatkan oleh warga kota. Sayangnya, jaringan drainase ini tidak terintegrasi dengan jaringan baru perkotaan.

Tata Ruang Kota
Kota Temanggung berada pada ketinggian rata-rata 650 mdpl. Pertumbuhan kota pada arah selatan dibatasi oleh pegunungan (G. Sindoro dan G. Sumbing) dengan ketinggian mencapai 1.500 mdpl untuk wilayah kabupatennya.
Aksesibilitas kota terbuka dari arah timur – barat yang merupakan jalan kolektor primer.Jalan ini membuka akses kota terhadap kota-kota lain yang berdekatan, seperti Magelang maupun Wonosobo. Sepanjang jalan utama ini tumbuh kegiatan perdagangan dan jasa yang menentukan pula pengelolaan lalu lintas ke dalam maupun ke luar kota.Pasar Kliwon berada di pusat kota baru yang merupakan bagian dari koridor komersil Jl.Sudirman – MT. Haryono. Poros utara – selatan sedikit sekali mempengaruhi pertumbuhan kota. Akses pada jalan ini, terutama adalah kegiatan-kegiatan pada skala lingkungan. Pada arah ini pula merupakan kawasan limitasi, seperti irigasi teknis di kawasan bagian utara maupun perbukitan di bagian selatan.
Terkait dengan aksesibilitas, kota ini menyediakan jalur pedestrian yang berlokasi pada jalan dengan kedalaman lokal sekunder. Dengan pola yang menyebar ke pinggiran kawasan perkotaan, jalur pedestrian ini memberikan kemudahan mobilitas bagi pejalan kaki. Meskipun moda utama yang digunakan untuk transportasi adalah angkotan kota berupa minibus.
Masjid Agung yang menjadi salah satu pusaka kota yang perlu dilindungi, sekaligus menjadi elemen pembentuk struktur kota
Masjid Agung yang menjadi salah satu pusaka kota yang perlu dilindungi, sekaligus menjadi elemen pembentuk struktur kota

Pada umumnya kota-kota pra-kolonial, pusat pemerintahan lama memiliki komponen-komponen tradisional yang turut membentuk struktur ruang sampai saat ini. Tempat kediaman adipati berada berdekatan dengan alun-alun maupun Masjid Agung dan penjara. Pusat lama ini menjadi simbol religius dan kuasa agung raja-raja Jawa yang memerintah. Secara fungsional, komponen-komponen ini pun mengalami transisi, terutama mengarah kepada komersialisasi dibandingkan fungsi spiritual. Terdapat pemanfaatan alun-alun sebagai tempat berjualan maupun usaha informal lainnya.

Pusat yang baru adalah pasar regional yang melayani wilayah kabupaten. Bangunan dengan kepadatan menengah berada di kawasan perdagangan ini dengan pola kegiatan memanjang sepanjang koridor jalan utama. Dengan pengaturan kegiatan yang dilakukan secara tertib, kegiatan di pasar tidak mengganggu lalu lintas kendaraan yang melalui koridor ini. Menuju ke pinggiran kota masih dapat ditemukan sawah dan kebun penduduk yang sangat berperan menyediakan ruang terbuka bagi kota.

Landmark kota - berada di koridor komersial Jl. S. Parman
Landmark kota – berada di koridor komersial Jl. S. Parman

Sosial Ekonomi

Ekonomi basis kota adalah perdagangan. Faktanya, denyut nadi kota ini berada di sepanjang koridor Jl. Sudirman – MT. Haryono, mulai dari subuh hingga malam hari. Komoditas yang diperdagangkan di Pasar Kliwon adalah hasil bumi yang berasal dari daerah sekitarnya, seperti kopi, sayur-mayur, maupun tembakau. Sektor basis ini kemudian menumbuhkan kegiatan ikutan lainnya (sebagai sektor non-basis), diantaranya: transportasi, perbankan, dan lain-lain.

Tidak ditemukan industri skala menengah – besar di kawasan perkotaan ini. Sebagian besar industri berupa industri rumah tangga, seperti tahu maupun cerutu yang tersebar di sejumlah desa. Bentuk industri ini memungkinkan munculnya pengatup pengaman bagi pengangguran, namun dengan skala penyerapan yang terbatas. Untuk memecahkan masalah pengangguran, terdapat inisiatif untuk membangun lembaga pelatihan tenaga kerja yang nantinya berperan untuk menyalurkan sejumlah tenaga kerja ke perusahan-perusahan perorangan dan koperasi.Di beberapa lokasi di dalam kawasan, dapat ditemukan gudang-gudang yang menampung tembakau. Gudang-gudang ini disewakan kepada para pemasok tembakau bagi pabrik-pabrik rokok, seperti Gudang Garam di Kediri.

Sosial Budaya

Pada awal tahun 1990-an, Kota Temanggung mendapatkan penghargaan Adipura Kencana. Penghargaan ini diperoleh karena kota tersebut mampu menjadi salah satu kota terbersih untuk kategori kota kecil selama lima tahun berturut-turut pada masa itu. Namun, lain dulu lain sekarang. Perhatian yang sedikit menurun terhadap kebersihan, seperti yang diakui sebagian warga kota merupakan perubahan dalam perilaku yang berkembang saat ini. Padahal, kota ini memiliki motto: BERSENYUM (Bersih, Sehat, Nyaman untuk Masyarakat).
Semakin meningkatnya jumlah pengangguran menyebabkan kekhawatiran mendalam dari warga kota. Salah satu akibat yang ditimbulkan dari persoalan tersebut adalah kriminalitas, meskipun tingkatnya masih lebih rendah.
Yang jelas bahwa kekuasaan raja dan para adipati sudah digantikan dengan kekuasaan birokrasi, namun pengaruhnya terhadap tata ruang di pusat kota lama masih ada sampai saat ini. Pendopo Penganyoman, kediaman adipati yang kemudian menjadi kediaman bupati Temanggung masih berdiri sampai sekarang. Alun-alun dipelihara keberadaannya dengan tetap mempertahankan keberadaan pohon beringin yang dikeramatkan.

Pendopo Penganyoman - pusat pemerintahan tradisional yang menjadi rumah dinas bupati Temanggung saat ini
Pendopo Penganyoman – pusat pemerintahan tradisional yang menjadi rumah dinas bupati Temanggung saat ini
Klenteng di pusat kota yang menunjukkan ragamnya keyakinan yang dipeluk penduduk kota
Klenteng di pusat kota yang menunjukkan ragamnya keyakinan yang dipeluk penduduk kota



Dalam perkembangannya, kota ini akan banyak dipengaruhi oleh kebijakan regional untuk menempatkan fungsi kota ini ke depan. Sebagai PKL, kota ini berperan sebagai pusat koleksi dan distribusi komoditas dari wilayah kabupaten. Fungsi ini sudah berlangsung dengan baik, meskipun tidak seluruh produk dari wilayah kabupaten mampir ke kota ini. Justru beberapa produk dengan nilai tambah tinggi dijual langsung ke Pusat Kegiatan Wilayah terdekat seperti Kota Magelang dan Wonosobo.

Ada kesadaran akan kondisi pertumbuhan yang stagnan di kalangan birokrat daerah, sehingga pemerintah daerah pun berupaya mencari alternatif lain sebagai ekonomi basis kota. Salah satu pilihannya adalah mengembangkan kegiatan rekreasi dan wisata yang telah ada, seperti: Pikatan, Taman Kartini. Pengembangan pariwisata ini akan sejalan dengan karakteristik sosial budaya warga kota yang terbuka menerima perubahan dan ramah.

Dalam kebijakan regional selanjutnya di dalam RTRW Kabupaten Temanggung, kota ini akan mendapatkan  “saingan” berupa pengembangan kawasan agropolitan yang berada di jalan nasional yang menghubungkan Kota Magelang dan Semarang. Kondisi ini sedikit tidak menguntungkan bagi kota ini karena akan menjadikan perkembangan selanjutnya lebih mengarah ke arah timur, yaitu Kranggan dan Secang, kecuali ditemukan formula bagi integrasi dengan kawasan perkotaan yang ada.
Kota Temanggung berada di Kabupaten Temanggung. Kota ini menjadi pusat pemerintahan dari daerah tersebut. Perkembangan kota ini banyak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan alam yang subur di wilayah sekitarnya. Daerah sekitar bukannya justru menjadi hinterland yang dapat diabaikan begitu saja. Kabupaten Temanggung terkenal dengan beragam hasil bumi yang memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan hasil bumi yang sama di daerah lainnya. Kota ini pun mendapatkan “hidup” daru kemampuan menciptakan ketekaitan dengan wilayah sekitarnya ini, misalnya dengan menjadi pusat administrasi pemerintahan daerah maupun menjadi pusat koleksi dan distribusi dari hasil bumi yang diproduksi oleh sekitarnya.
Panorama pegunungan yang dapat dinikmati dari sela-sela bangunan di tengah Kota Temanggung Dibandingkan dengan kota-kota lain di Jawa Tengah, Temanggung ditempatkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL). Secara kawasan, Kota Temanggung berada di dalam kawasan yang dikategorikan dalam perkembangan stagnan. Dengan membandingkan kondisi kota ini lima tahun lalu, nampak pertumbuhan secara fisik tidak berlangsung pesat. Namun, secara perlahan kota ini berbenah dengan cara mengembangkan sektor-sektor basis lainnya, diantaranya jasa keuangan dan pariwisata.

Sejarah Kota

Sejarah kota ini dapat dirunut jauh sebelum dinasti Mataram Islam. Keberadaannya sekarang tidak dapat dilepaskan dari sejarahnya tersebut. Konteks sosial politik yang berkembang saat itu mempengaruhi posisi strategis kota, meskipun kondisi fisik geografisnya turut berkontribusi, terutama dalam tahap perkembangan saat ini. Dimulai pada pertengahan abad ke-IX, dibuat Prasasti Wanua Tengah yang menceritakan perubahan status tanah di Desa Wanua Tengah (sekarang disebut Desa Wanua Tengah di Kec. Bulu di sebelah barat kota), yang semula merupakan tanah perdikan atau tanah Simah yang mendapat kebebasan pajak. Perubahan status tanah ini terkait dengan persembahan kepada biara di Pikatan oleh Rakai Panangkaran, berlokasi 3 km dari pusat Kota Temanggung. Permukiman pun tumbuh di daerah ini yang secara perlahan menjadikan daerah sekitarnya menjadi berkembang. Daerah lainnya yang turut berkembang menjadi kota di Kabupaten Temanggung adalah Parakan, yang terletak di sebelah timur Kota Temanggung. Desa ini mulanya berasal dari kata “marak” yang didirikan oleh Prabu Benowo.
Pada pemerintahan Sultan Agung (1613 – 1645), daerah Kedu termasuk ke dalam Jawi Rangkah yang dibagi menjadi 2 bagian. Sebagian dari daerah tersebut disebut sebagai Siti Bumi dan sebagian lagi sebagi Siti Bumijo. Kota Temanggung berada di dalam Siti Bumi. Tahun 1827, Raden Ngabehi Jayanegara menjadi bupati di Menoreh menurut pengangkatan oleh pemerintah Hindia Belanda. Sementara itu, Temanggung menjadi ibukota dari Menoreh. Selanjutnya Temanggung memiliki Asisten Residen dengan pertimbangan keamanan. Pada tahun 1834, Asisten Probolinggo dipindahkan ke Kabupaten Menoreh yang berubah menjadi Kabupaten Temanggung. Tahun-tahun berikutnya adalah saat-saat daerah ini memperoleh status otonominya dengan Kota Temanggung menjadi salah satu dari dua kawasan perkembangan yang berkembang, yaitu Temanggung dan Parakan.
Tugu Tani yang berada di alun-alun Kota Temanggung menunjukkan keunggulan produksi hasil pertanian di Kab. Temanggung. Pada masa kolonialisme Belanda, pemerintah Hindia Belanda menjadikan Kota Temanggung sebagai pusat pemerintahan dari Keresidenan Menoreh. Pemerintah Hindia Belanda juga membangun jaringan drainase yang keberadaanya sampai saat ini masih dapat ditemukan. Jaringan ini juga masih dimanfaatkan oleh warga kota. Sayangnya, jaringan drainase ini tidak terintegrasi dengan jaringan baru perkotaan.

Tata Ruang Kota

Kota Temanggung berada pada ketinggian rata-rata 650 mdpl. Pertumbuhan kota pada arah selatan dibatasi oleh pegunungan (G. Sindoro dan G. Sumbing) dengan ketinggian mencapai 1.500 mdpl untuk wilayah kabupatennya.
Aksesibilitas kota terbuka dari arah timur – barat yang merupakan jalan kolektor primer. Jalan ini membuka akses kota terhadap kota-kota lain yang berdekatan, seperti Magelang maupun Wonosobo. Sepanjang jalan utama ini tumbuh kegiatan perdagangan dan jasa yang menentukan pula pengelolaan lalu lintas ke dalam maupun ke luar kota. Pasar Kliwon berada di pusat kota baru yang merupakan bagian dari koridor komersil Jl. Sudirman – MT. Haryono. Poros utara – selatan sedikit sekali mempengaruhi pertumbuhan kota. Akses pada jalan ini, terutama adalah kegiatan-kegiatan pada skala lingkungan. Pada arah ini pula merupakan kawasan limitasi, seperti irigasi teknis di kawasan bagian utara maupun perbukitan di bagian selatan.
Terkait dengan aksesibilitas, kota ini menyediakan jalur pedestrian yang berlokasi pada jalan dengan kedalaman lokal sekunder. Dengan pola yang menyebar ke pinggiran kawasan perkotaan, jalur pedestrian ini memberikan kemudahan mobilitas bagi pejalan kaki. Meskipun moda utama yang digunakan untuk transportasi adalah angkotan kota berupa minibus.
Masjid Agung yang menjadi salah satu pusaka kota yang perlu dilindungi, sekaligus menjadi elemen pembentuk struktur kota.
Pada umumnya kota-kota pra-kolonial, pusat pemerintahan lama memiliki komponen-komponen tradisional yang turut membentuk struktur ruang sampai saat ini. Tempat kediaman adipati berada berdekatan dengan alun-alun maupun Masjid Agung dan penjara. Pusat lama ini menjadi simbol religius dan kuasa agung raja-raja Jawa yang memerintah. Secara fungsional, komponen-komponen ini pun mengalami transisi, terutama mengarah kepada komersialisasi dibandingkan fungsi spiritual. Terdapat pemanfaatan alun-alun sebagai tempat berjualan maupun usaha informal lainnya.
Pusat yang baru adalah pasar regional yang melayani wilayah kabupaten. Bangunan dengan kepadatan menengah berada di kawasan perdagangan ini dengan pola kegiatan memanjang sepanjang koridor jalan utama. Dengan pengaturan kegiatan yang dilakukan secara tertib, kegiatan di pasar tidak mengganggu lalu lintas kendaraan yang melalui koridor ini. Menuju ke pinggiran kota masih dapat ditemukan sawah dan kebun penduduk yang sangat berperan menyediakan ruang terbuka bagi kota.
Landmark kota – berada di koridor komersial Jl. S. Parman

Sosial Ekonomi

Ekonomi basis kota adalah perdagangan. Faktanya, denyut nadi kota ini berada di sepanjang koridor Jl. Sudirman – MT. Haryono, mulai dari subuh hingga malam hari. Komoditas yang diperdagangkan di Pasar Kliwon adalah hasil bumi yang berasal dari daerah sekitarnya, seperti kopi, sayur-mayur, maupun tembakau. Sektor basis ini kemudian menumbuhkan kegiatan ikutan lainnya (sebagai sektor non-basis), diantaranya: transportasi, perbankan, dan lain-lain.
Tidak ditemukan industri skala menengah – besar di kawasan perkotaan ini. Sebagian besar industri berupa industri rumah tangga, seperti tahu maupun cerutu yang tersebar di sejumlah desa. Bentuk industri ini memungkinkan munculnya pengatup pengaman bagi pengangguran, namun dengan skala penyerapan yang terbatas. Untuk memecahkan masalah pengangguran, terdapat inisiatif untuk membangun lembaga pelatihan tenaga kerja yang nantinya berperan untuk menyalurkan sejumlah tenaga kerja ke perusahan-perusahan perorangan dan koperasi.Di beberapa lokasi di dalam kawasan, dapat ditemukan gudang-gudang yang menampung tembakau. Gudang-gudang ini disewakan kepada para pemasok tembakau bagi pabrik-pabrik rokok, seperti Gudang Garam di Kediri.

Sosial Budaya

Pada awal tahun 1990-an, Kota Temanggung mendapatkan penghargaan Adipura Kencana. Penghargaan ini diperoleh karena kota tersebut mampu menjadi salah satu kota terbersih untuk kategori kota kecil selama lima tahun berturut-turut pada masa itu. Namun, lain dulu lain sekarang. Perhatian yang sedikit menurun terhadap kebersihan, seperti yang diakui sebagian warga kota merupakan perubahan dalam perilaku yang berkembang saat ini. Padahal, kota ini memiliki motto: BERSENYUM (Bersih, Sehat, Nyaman untuk Masyarakat).
Semakin meningkatnya jumlah pengangguran menyebabkan kekhawatiran mendalam dari warga kota. Salah satu akibat yang ditimbulkan dari persoalan tersebut adalah kriminalitas, meskipun tingkatnya masih lebih rendah.
Yang jelas bahwa kekuasaan raja dan para adipati sudah digantikan dengan kekuasaan birokrasi, namun pengaruhnya terhadap tata ruang di pusat kota lama masih ada sampai saat ini. Pendopo Penganyoman, kediaman adipati yang kemudian menjadi kediaman bupati Temanggung masih berdiri sampai sekarang. Alun-alun dipelihara keberadaannya dengan tetap mempertahankan keberadaan pohon beringin yang dikeramatkan.
Pendopo Penganyoman – pusat pemerintahan tradisional yang menjadi rumah dinas bupati Temanggung saat ini
Pendopo Penganyoman – pusat pemerintahan tradisional yang menjadi rumah dinas bupati Temanggung saat ini
Klenteng di pusat kota yang menunjukkan ragamnya keyakinan yang dipeluk penduduk kota

Penutup

Dalam perkembangannya, kota ini akan banyak dipengaruhi oleh kebijakan regional untuk menempatkan fungsi kota ini ke depan. Sebagai PKL, kota ini berperan sebagai pusat koleksi dan distribusi komoditas dari wilayah kabupaten. Fungsi ini sudah berlangsung dengan baik, meskipun tidak seluruh produk dari wilayah kabupaten mampir ke kota ini. Justru beberapa produk dengan nilai tambah tinggi dijual langsung ke Pusat Kegiatan Wilayah terdekat seperti Kota Magelang dan Wonosobo.
Ada kesadaran akan kondisi pertumbuhan yang stagnan di kalangan birokrat daerah, sehingga pemerintah daerah pun berupaya mencari alternatif lain sebagai ekonomi basis kota. Salah satu pilihannya adalah mengembangkan kegiatan rekreasi dan wisata yang telah ada, seperti: Pikatan, Taman Kartini. Pengembangan pariwisata ini akan sejalan dengan karakteristik sosial budaya warga kota yang terbuka menerima perubahan dan ramah.
Dalam kebijakan regional selanjutnya di dalam RTRW Kabupaten Temanggung, kota ini akan mendapatkan “saingan” berupa pengembangan kawasan agropolitan yang berada di jalan nasional yang menghubungkan Kota Magelang dan Semarang. Kondisi ini sedikit tidak menguntungkan bagi kota ini karena akan menjadikan perkembangan selanjutnya lebih mengarah ke arah timur, yaitu Kranggan dan Secang, kecuali ditemukan formula bagi integrasi dengan kawasan perkotaan yang ada.

KABUPATEN PATI

Kabupaten Pati adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Pati. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Rembang di timur, Kabupaten Blora dan Kabupaten Grobogan di selatan, serta Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara di barat. Kabupaten ini terkenal dengan semboyan Pati Bumi Mina Tani.

Sejarah
Sejarah Kabupaten Pati berpangkal tolak dari beberapa gambar yang terdapat pada Lambang Daerah Kabupaten Pati yang sudah disahkan dalam Peraturan Daerah No. 1 Tahun 1971 yaitu Gambar yang berupa: "keris rambut pinutung dan kuluk kanigara".

Asal Usul Kota Pati Jawa Tengah
Logo Kabupaten Pati

Legenda rakyat telah membentuk sejarah Kota Pati. Dahulu, Pulau Jawa sempat mengalami kekosongan pemerintah setelah runtuhnya Kerajaan Singosari. Kemudian, muncullah penguasa baru yang berasal dari wilayah Pantai Utara atau sekitar Gunung Muria sebelah timur yang mengangkat dirinya sendiri sebagai adipati yang menguasai sebuah kadipaten.

Saat itu terdapat dua penguasa, yaitu Adhipati Yudhapati dan Kadipaten Paranggaruda yang wilayahnya meliputi Kabupaten Grobogan dan Puspa Andungjaya dari Kadipaten Carangsoka yang wilayahnya meliputi Pantai Utara hingga Kabupaten Rembang.

Kedua adipati itu berniat menikahkan putra-putri mereka. Di tengah pesta pernikahan, Rara Rayungwulan, putri dari Puspa Andungjaya malah melarikan diri dengan dalang yang menghibur disana. Terjadilah kekacauan dan peperangan.

Mereka yang berasal dari Paranggaruda mati dengan membela kehormatan. Patih Carangsoka, Raden Kembangjaya, yang berjasa kemudian dinikahkan dengan Rara Rayungwulan. Sementara, sang dalang malah dijadikan sebagai patihnya.

Pemerintahan terus dilanjutkan di bawah kepemimpinan Kembangjaya. Setelah memperluas wilayah kekuasaan Kadipaten Pesantenan hingga ke selatan, ia wafat dan digantikan oleh anaknya, Raden Tambranegara yang kemudian memindahkan kadipaten ke barat dan mengganti namanya menjadi Kadipaten Pati.

Raja Jayanegara dari Majapahit setiap tahunnya meminta upeti berupa bunga pada Adipati Raden Tambranegara agar kekuasaan kadipaten tersebut mendapat status dari Kerajaan Majapahit. Kisah ini terdapat dalam Kitab Babad Pati.

Menurut cerita rakyat yang terdapat juga pada kitab Babat Pati dan kitab Babat lainnya dua pusaka yaitu "keris rambut pinutung dan kuluk kanigara" merupakan lambang kekuasan dan kekuatan yang juga merupakan simbul kesatuan dan persatuan.

Barangsiapa yang memiliki dua pusaka tersebut, akan mampu menguasai dan berkuasa memerintah di Pulau Jawa. Adapun yang memiliki dua pusaka tersebut adalah Raden Sukmayana penggede Majasemi andalan Kadipaten Carangsoka.

Sejarah Kabupaten Pati, Jawa Tengah - Kabupaten Pati, merupakan sebuah kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah kota Pati. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Rembang di timur, Kabupaten Blora dan Kabupaten Grobogan di selatan, serta Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara di barat.
Sejarah Kabupaten Pati berpangkal tolak dari beberapa gambar yang terdapat pada Lambang Daerah Kabupaten Pati yang sudah disahkan dalam Peraturan Daerah No. 1 Tahun 1971 yaitu Gambar yang berupa: "keris rambut pinutung dan kuluk kanigara".

Menurut cerita rakyat dari mulut ke mulut yang terdapat juga pada kitab Babat Pati dan kitab Babat lainnya dua pusaka yaitu "keris rambut pinutung dan kuluk kanigara" merupakan lambang kekuasan dan kekuatan yang juga merupakan simbul kesatuan dan persatuan.

Barangsiapa yang memiliki dua pusaka tersebut, akan mampu menguasai dan berkuasa memerintah di Pulau Jawa. Adapun yang memiliki dua pusaka tersebut adalah Raden Sukmayana penggede Majasemi andalan Kadipaten Carangsoka.
Kota Pati terletak di daerah Pantura (Pantai Utara) dekat dengan laut utara pulau jawa. kota ini terdiri lebih dari 20 kecamatan, diantaranya adalah kecamatan Gabus, Tambakromo, Winong, dan lainnya.

Kota Pati termasuk dalam eks karisidenan yang meliputi wilayah kudus, jepara, blora. kota ini masih berada di wilayah propinsi Jawa Tengah. kegiatan yang di lakukan masyarakat kota pati beragam, ada yang berprofesi sebagai petani, nelayan, pns, buruh, ada juga masyarakat yang berprofesi sebagai paranormal, bahhkan untuk profesi tersebut sudah di akui oleh masyarakat indonesia, ataupun masyarakat dunia khususnya di asia.

Situs-situs peninggalan masyarakat terdahulu masih menyimpan misteri untuk dapat di ungkapkan. hal ini terjadi karena dulunya wilayah pati merupakan daerah kerajan majapahit dan mataram.

Sejarah kota Pati
Kota Pati pada zaman dahulu merupakan sebuah kerajaan sendiri, yang pada waktu ini menjadi daerah kekuasaan majapahit, dan kemudian di ambil alih oleh mataram.

Di kota Pati terdapat situs-situs peninggalan zaman kerajaan, diantaranya :
Pintu Gerbang Majapahit
konon gerbang ini terjatuh ketika akan di bawa ke wilayah jawa timur yang pada waktu itu menjadi pusat wilayah kerajaan majapahit.

Genuk Kemiri
Lokasi yang ditengarai bekas pusat pemerintahan Kadipaten Pati, sebelum dipindahkan ke Kampung Kaborongan, Kelurahan Pati Lor hingga sekarang, semula berupa tanah kosong yang banyak ditumbuhi pohon besar dan rumpun bambu. Bagian depan masuk lokasi tersebut terdapat pohon beringin tua.
Kawasan itu mulai ditata dan diperindah, ketika masa Pemkab Pati dijabat Bupati Sunardji. Selain dipasang tembok pembatas keliling, bekas bangunan pendapa kabupaten juga dipindahkan ke lokasi tersebut, sehingga pada setiap peringatan HUT Pati yang tiap tahun jatuh pada 7 Agustus, pendapa berfungsi sebagai tempat malam tirakatan.

Di belakang sisi utara pendapa terdapat cungkup mirip sebuah makam. Di dalam bangunan itulah terdapat sebuah genuk (tempayan) yang dikenal sebagai Genuk Kemiri yang kondisinya sudah tidak utuh lagi karena pecah.

Di lokasi genuk itu, biasanya dijadikan tempat orang untuk ngalap berkah. Pada sisi belakang pendapa terdapat makam tua yang diyakini warga sebagai makam sesepuh Kemiri. Sejak dipindahkan bekas bangunan pendapa kabupaten, tempat tersebut bila malam tidak gulita karena diberi penerangan listrik. Selain itu, Balai Desa Serirejo juga sudah dipindahkan ke lokasi tersebut.

Pariwisata
Pariwisata di kota pati kebanyakan berupa keindahan yang di buat oleh alam (dalam hal ini berupa goa) dan makam-makam yang di anggap keramat oleh masyarakat sekitar. kekeramatan yang di padukan dengan unsur keindahan terktur dapat menarik minat wisatawan dari daerah pati sendiri atau bahkan dari luar kabupaten pati.

Obyek wisata yang sering di kunjungi oleh wisatawan ada tiga tempat,
diantaranya : Goa pancur yang berada di wilayah kecamatan Kayen, Goa Cerawang yang berada di desa Todanan wilayah kecamatan Puncak Wangi, dan Goa Lowo yang berada di wilayah kecamatan TambakRomo.

Dahulu Goa-goa tersebut masih rapi dan di kunjungi banyak wisatawan sekarang jumlah wisatawan yang datang kesana hanya beberapa, dan kebanyakan yang datang ke tempat tersebut mempunyai maksud dan tujuan yang lain dari pada hanya menikmati pemandangan alam dan bentuk-bentuk staklakmit saja. Goa-goa tersebut sekarang menjadi ajang untuk mendapatkan pencerahan (masyarakat sekitar menyebutnya “wangsit”). Tempat wisata yang sekarang masih menarik minat wisatawan yaitu di pulau kecil di daerah kecamatan juwana, nama pulau tersebut adalah “Pulau Seperempat”. Pulau itu dinamakan tersebut karena bentuknya yang unik hanya berbentuk seperempat saja. Di pulau seperempat setiap tahunnya di adakan upacara ucapan syukur kepada Yang Berkuasa atas alam, upacara itu oleh masyarakat sekitar dinamakan “Sedekah Bumi”.
Sejarah Atau Legenda Berdirinya Kabupaten Pati
Kevakuman Pemerintahan di Pulau Jawa
Menjelang akhir abad ke XIII sekitar tahun 1292 Masehi di Pulau Jawa vakum penguasa pemerintahan yang berwibawa. Kerajaan Pajajaran mulai runtuh, Kerajaan Singasari surut, sedang Kerajaan Majapahit belum berdiri.

Di Pantai utara Pulau Jawa Tengah sekitar Gunung Muria bagian Timur muncul penguasa lokal yang mengangkat dirinya sebagai adipati, wilayah kekuasaannya disebut kadipaten.

Ada dua penguasa lokal di wilayah itu yaitu. 1. Penguasa Kadipaten Paranggaruda, Adipatinya bernama Yudhapati, wilayah kekuasaannya meliputi sungai Juwana ke selatan, sampai pegunungan Gamping Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan. Mempunyai putra bernama Raden Jasari. 2. Penguasa Kadipaten Carangsoka, Adipatinya bernama: Puspa Andungjaya, wilayah kekuasaannya meliputi utara sungai Juwana sampai pantai Utara Jawa Tengah bagian timur. Adipati Carangsoka mempunyai seorang putri bernama Rara Rayungwulan
Kadipaten Carangsoka dan Paranggaruda Berbesanan
Kedua Kadipaten tersebut hidup rukun dan damai, saling menghormati dan saling menghargai untuk melestarikan kerukunan dan memperkuat tali persaudaraan, Kedua adipati tersebut bersepakat untuk mengawinkan putra dan putrinya itu. Utusan Adipati Paranggaruda untuk meminang Rara Rayungwulan telah diterima, namun calon mempelai putri minta bebana agar pada saat pahargyan boja wiwaha daup (resepsi) dimeriahkan dengan pagelaran wayang dengan dalang kondang yang bernama "Sapanyana".

Untuk memenuhi bebana itu, Adipati Paranggaruda menugaskan penggede kemaguhan bernama Yuyurumpung agul-agul Paranggaruda. Sebelum melaksanakan tugasnya, lebih dulu Yuyurumpung berniat melumpuhkan kewibawaan Kadipaten Carangsoka dengan cara menguasai dua pusaka milik Sukmayana di Majasemi. Dengan bantuan uSondong Majerukn kedua pusaka itu dapat dicurinya namun sebelum dua pusaka itu diserahkan kepada Yuyurumpung, dapat direbut kembali oleh Sondong Makerti dari Wedari. Bahkan Sondong Majeruk tewas dalam perkelahian dengan Sondong Makerti. Dan Pusaka itu diserahkan kembali kepada Raden Sukmayana. Usaha Yuyurumpung untuk menguasai dan memiliki dua pusaka itu gagal.

Walaupun demikian Yuyurumpung tetap melanjutkan tugasnya untuk mencari Dalang Sapanyana agar perkawinan putra Adipati Paranggaruda tidak mangalami kegagalan (berhasil dengan baik).

Pada Malam pahargyan bojana wiwaha (resepsi) perkawinaan dapat diselenggarakan di Kadipaten Carangsoka dengan Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Dalang Sapanyana. Di luar dugaan pahargyan baru saja dimulai, tiba-tiba mempelai putri meninggalkan kursi pelaminan menuju ke panggung dan seterusnya melarikan diri bersama Dalang Sapanyana. Pahargyan perkawinan antara " Raden Jasari " dan " Rara Rayungwulan " gagal total.

Adipati Yudhapati merasa dipermalukan, emosi tak dapat dikendalikan lagi. Sekaligus menyatakan permusuhan terhadap Adipati Carangsoka. Dan peperangan tidak dapat dielakkan. Raden Sukmayana dari Kadipaten Carangsoka mempimpin prajurit Carangsoka, mengalami luka parah dan kemudian wafat. Raden Kembangjaya (adik kandung Raden Sukmayana) meneruskan peperangan. Dengan dibantu oleh Dalang Sapanyana, dan yang menggunakan kedua pusaka itu dapat menghancurkan prajurit Paranggaruda. Adipati Paranggaruda, Yudhapati dan putera lelakinya gugur dalam palagan membela kehormatan dan gengsinya.

Oleh Adipati Carangsoka, karena jasanya Raden Kembangjaya dikawinkan dengan Rara Rayungwulan kemudian diangkat menjadi pengganti Carangsoka. Sedang dalang Sapanyana diangkat menjadi patihnya dengan nama " Singasari ".
Kadipaten Pesantenan
Untuk mengatur pemerintahan yang semakin luas wilayahnya ke bagian selatan, Adipati Raden Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahannya dari Carangsoka ke Desa Kemiri dengan mengganti nama " Kadipaten Pesantenan dengan gelar " Adipati Jayakusuma di Pesantenan.

Adipati Jayakusuma hanya mempunyai seorang putra tunggal yaitu " Raden Tambra ". Setelah ayahnya wafat, Raden Tambra diangkat menjadi Adipati Pesantenan, dengan gelar " Adipati Tambranegara ". Dalam menjalankan tugas pemerintahan Adipati Tambranegara bertindak arif dan bijaksana. Menjadi songsong agung yang sangat memperhatikan nasib rakyatnya, serta menjadi pengayom bagi hamba sahayanya. Kehidupan rakyatnya penuh dengan kerukunan, kedamaian, ketenangan dan kesejahteraannya semakin meningkat. Kabupaten Pati
Untuk dapat mengembangkan pembangunan dan memajukan pemerintahan di wilayahnya Adipati Raden Tambranegara memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa Kemiri menuju ke arah barat yaitu, di desa Kaborongan, dan mengganti nama Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati.

Dalam prasasti Tuhannaru, yang diketemukan di desa Sidateka, wilayah Kabupaten Majakerta yang tersimpan di musium Trowulan. Prasasti itu terdapat pada delapan Lempengan Baja, dan bertuliskan huruf Jawa kuna. Pada lempengan yang keempat antara lain berbunyi bahwa : ..... Raja Majapahit, Raden Jayanegara menambah gelarnya dengan Abhiseka Wiralanda Gopala pada tanggal 13 Desember 1323 M. Dengan patihnya yang setia dan berani bernama Dyah Malayuda dengan gelar "Rakai", Pada saat pengumuman itu bersamaan dengan pisuwanan agung yang dihadiri dari Kadipaten pantai utara Jawa Tengah bagian Timur termasuk Raden Tambranegara berada di dalamnya.
Pati Bagian dari Majapahit
Raja Jayanegara dari Majapahit mengakui wilayah kekuasaan para Adipati itu dengan memberi status sebagai tanah predikan, dengan syarat bahwa para Adipati itu setiap tahun harus menyerahkan Upeti berupa bunga.

Bahwa Adipati Raden Tambranegara juga hadir dalam pisuwanan agung di Majapahit itu terdapat juga dalam Kitab Babad Pati, yang disusun oleh K.M. Sosrosumarto dan S.Dibyasudira, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1980. Halaman 34, Pupuh Dandanggula pada : 12 yang lengkapnya berbunyi : ..... Tan alami pajajaran kendhih, keratonnya ing tanah Jawa angalih Majapahite, ingkang jumeneng ratu, Brawijaya ingkang kapih kalih, ya Jaka Pekik wasta, putra Jaka Suruh, Kyai Ageng Pathi nama, Raden Tambranegara sumewa maring Keraton Majalengka.





Artinya Tidak lama kemudian Kerajaan Pajajaran kalah, Kerajaan Tanah Jawa lalu pindah ke Majapahit, adapun yang menjadi rajanya adalah Brawijaya II, yaitu Jaka Pekik namanya, putranya Jaka Suruh. Pada waktu itu Kyai Ageng Pati, yang bernama Tambranegara menghadap ke Majalengka, yaitu Majapahit.

Berdasarkan hal tersebut, jelaslah bahwa Raden Tambranegara Adipati Pati turut serta hadir dalam pisowanan agung di Majapahit. Pisowanan agung yang dihadiri oleh Raden Tambranegara ke Majapahit pada tanggal 13 Desember 1323, maka diperkirakan bahwa pindahnya Kadipaten Pesantenan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan dan menjadi Kabupaten Pati itu pada bulan Juli dan Agustus 1323 M (Masehi). Ada tiga tanggal yang baik pada bulan Juli dan Agustus 1323 yaitu : 3 Juli, 7 Agustus dan 14 Agustus 1323. Hari Jadi Pati
Kemudian diadakan seminar pada tanggal 28 September 1993 di Pendopo Kabupaten Pati yang dihadiri oleh para perwakilan lapisan masyarakat Kabupaten Pati, para guru sejarah SMA se Kabupaten Pati, Konsultan, Dosen Fakultas Sastra dan Sejarah UNDIP Semarang, secara musyawarah dan sepakat memutuskan bahwa pada tanggal 7 Agustus 1323 sebagai hari kepindahan Kadipaten Pesantenan di Desa Kemiri ke Desa Kaborongan menjadi Kabupaten Pati.

Tanggai 7 Agustus 1323 sebagai HARI JADI KABUPATEN PATI telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor : 2/1994 tanggal 31 Mei 1994, sehingga menjadi momentum Hari Jadi Kabupaten Pati dengan surya sengkala " KRIDANE PANEMBAH GEBYARING BUMI " yang bermakna " Dengan bekerja keras dan penuh do'a kita gali Bumi Pati untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriah dan batiniah ". Untuk itu maka setiap tanggal 7 Agustus 1323 yang ditetapkan dan diperingati sebagai "Hari Jadi Kabupaten Pati".

Julukan Lain Dari Kabupaten Pati
Pati, Kota Seribu Paranormal - Tidak berlebihan jika Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berjulukan kota seribu paranormal. Di Pati, sangat mudah menemukan paranormal, baik yang sudah tersohor seperti Boss Eddy atau Mbah Roso, maupun paranormal kelas kampung yang tersebar di hampir seluruh perkampungan.

Di antara paranormal yang kondang, ada nama-nama seperti Boss Eddy, Mbak Har, Mbah Roso, Jeng Asih, Sukma Jati, Anisa Dewi, David Gombak, dan Dewi Sedap Malam. Klien mereka beragam, mulai dari kalangan selebritas, pejabat, politikus, tentara, polisi, pengusaha, pedagang, sampai mahasiswa.

Menurut Boss Eddy, yang juga Ketua Paguyuban Paranormal Indonesia, menjamurnya paranormal di Pati tak lepas dari sejarah panjang supranatural di daerah ini. Sejak zaman Mataram Hindu, masyarakat Pati dikenal sebagai masyarakat yang gandrung ilmu kanuragan (kesaktian). Saat Kerajaan Mataram Hindu bermetamorfosis menjadi Mataram Islam dan mendirikan Kerajaan Demak Bintoro, konon masyarakat Pati, yang hanya berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Demak, ikut berjuang.

Secara geografis, Pati juga dikelilingi oleh makam-makam tokoh spiritual yang sangat kuat. Di sebelah barat ada Sunan Kalijaga di Demak, serta Sunan Kudus dan Sunan Muria di Kudus. Di sebelah selatan ada Syekh Jangkung dan Saridin yang kondang dengan kesaktiannya. Dari sisi utara ada makam KH Mutamakin. Di pegunungan Patiayam juga pernah berdiri padepokan yang dipimpin Senggoropati, paranormal kondang yang menjadi guru hampir semua paranormal saat ini.

Baca juga : Sejarah kota semarang

"Keberadaan makam-makam tersebut ikut mempengaruhi tradisi spiritual masyarakat Pati," ujar Boss Eddy ketika ditemui Tempo, Senin malam, 1 April 2013. Keberadaan makam-makam tersebut, lanjutnya, ikut memperkuat aura spiritual masyarakat Pati.

Hal senada diakui Jeng Asih. Menurut perempuan bernama asli Asih Marlina ini, keberadaan setiap tokoh spiritual di Pati menjadi sumber kekuatan para paranormal yang ada sekarang. Sumber kekuatan itu sesuai dengan jasa layanan yang diberikan para paranormal yang meliputi pengasihan, penglarisan, kanuragan, dan kewibawaan.

Dia menguraikan, pengasihan tak lepas dari keberadaan Ratu Kalinyamat dan Mbah Ratu. Sumber kekuatan kewibawaan adalah Makam Eyang Pragolo dan Eyang Mbuluh Cengol Sewu. Sedangkan tokoh Saridin dan Tondo Negoro sebagai sumber kekuatan kanuragan. "Masing-masing tokoh tersebut masih punya pengikut sampai sekarang," kata Jeng Asih.



SUMBER

SEJARAH KOTA SEMARANG, JAWA TENGAH

Sejarah Kota Semarang Jawa Tengah berawal kurang lebih pada Abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil. Akibat pengendapan, yang hingga sekarang masih terus berlangsung, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Bagian kota Semarang Bawah yang dikenal sekarang ini dengan demikian dahulu merupakan laut. Pelabuhan tersebut diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar pada tahun 1405 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan kelenteng dan mesjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu).

Pada akhir abad ke-15 M ada seseorang ditempatkan oleh Kerajaan Demak, dikenal sebagai Pangeran Made Pandan, untuk menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang.

Sejarah Kota Semarang Jawa Tengah
Kantor Gubernur Jawa Tengah
Sumber




Sebagai pendiri desa, kemudian menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II (kelak disebut sebagai Sunan Bayat). Di bawah pimpinan Pandan Arang II, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten. Pada tanggal 2 Mei 1547 bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H disahkan oleh Sultan Hadiwijayasetelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga. Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang.

Kemudian pada tahun 1678 Amangkurat II dari Mataram, berjanji kepada VOC untuk memberikan Semarang sebagai pembayaran hutangnya, dia mengklaim daerah Priangan dan pajak dari pelabuhan pesisir sampai hutangnya lunas. Pada tahun 1705 Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai bagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu Semarang resmi menjadi kota milik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda.
Kantor KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) di Semarang (1918-1930)

Pada tahun 1906 dengan Stanblat Nomor 120 tahun 1906 dibentuklah Pemerintah Gemeente. Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh seorang Burgemeester (Walikota). Sistem Pemerintahan ini dipegang oleh orang-orang Belanda berakhir pada tahun 1942 dengan datangya pemerintahan pendudukan Jepang.

Pada masa Jepang terbentuklah pemerintah daerah Semarang yang di kepalai Militer (Shico) dari Jepang. Didampingi oleh dua orang wakil (Fuku Shico) yang masing-masing dari Jepang dan seorang bangsa Indonesia. Tidak lama sesudah kemerdekaan, yaitu tanggal 15 sampai 20 Oktober 1945 terjadilah peristiwa kepahlawanan pemuda-pemuda Semarang yang bertempur melawan balatentara Jepang yang bersikeras tidak bersedia menyerahkan diri kepada Pasukan Republik. Perjuangan ini dikenal dengan nama Pertempuran lima hari di Semarang.

Tahun 1946 lnggris atas nama Sekutu menyerahkan kota Semarang kepada pihak Belanda.Ini terjadi pada tangga l6 Mei 1946. Tanggal 3 Juni 1946 dengan tipu muslihatnya, pihak Belanda menangkap Mr. Imam Sudjahri, walikota Semarang sebelum proklamasi kemerdekaan. Selama masa pendudukan Belanda tidak ada pemerintahan daerah kota Semarang. Narnun para pejuang di bidang pemerintahan tetap menjalankan pemerintahan di daerah pedalaman atau daerah pengungsian diluar kota sampai dengan bulan Desember 1948. daerah pengungsian berpindah-pindah mulai dari kota Purwodadi, Gubug, Kedungjati, Salatiga, dan akhirnya di Yogyakarta. Pimpinan pemerintahan berturut-turut dipegang oleh R Patah, R.Prawotosudibyo dan Mr Ichsan. Pemerintahan pendudukan Belanda yang dikenal dengan Recomba berusaha membentuk kembali pemerintahan Gemeente seperti dimasa kolonial dulu di bawah pimpinan R Slamet Tirtosubroto. Hal itu tidak berhasil, karena dalam masa pemulihan kedaulatan harus menyerahkan kepada Komandan KMKB Semarang pada bulan Februari 1950. tanggal I April 1950 Mayor Suhardi, Komandan KMKB. menyerahkan kepemimpinan pemerintah daerah Semarang kepada Mr Koesoedibyono, seorang pegawai tinggi Kementrian Dalam Negeri di Yogyakarta. Ia menyusun kembali aparat pemerintahan guna memperlancar jalannya pemerintahan.

Daftar walikota Sejak 1945

Sejak tahun 1945 para walikota yang memimpin kota besar Semarang yang kemudian menjadi Kota Praja dan akhirnya menjadi Kota Semarang adalah sebagai berikut:
  1. Mr. Moch.lchsan
  2. Mr. Koesoebiyono Tjondrowibowo (1949–1 Juli 1951)
  3. RM. Hadisoebeno Sosrowerdoyo (1 Juli 1951–1 Januari 1958)
  4. Mr. Abdulmadjid Djojoadiningrat (7 Januari 1958–1 Januari 1960)
  5. RM Soebagyono Tjondrokoesoemo (1 Januari 1961–26 April 1964)
  6. Mr. Wuryanto (25 April 1964–1 September 1966)
  7. Letkol. Soeparno (1 September 1966–6 Maret 1967)
  8. Letkol. R.Warsito Soegiarto (6 Maret 1967–2 Januari 1973)
  9. Kolonel Hadijanto (2 Januari 1973–15 Januari 1980)
  10. Kol. H. Iman Soeparto Tjakrajoeda SH (15 Januari 1980–19 Januari 1990)
  11. Kolonel H. Soetrisno Suharto (19 Januari 1990–19 Januari 2000)
  12. H. Sukawi Sutarip SH. (19 Januari 2000–2010)
  13. Drs. H. Soemarmo HS, MSi. (2010–2013)
  14. Hendrar Prihadi, SE, MM. (2013-sekarang)
Daftar penguasa Semarang
Di bawah Kerajaan Demak 
  1. Kin San/Raden Kusen (1478-1529)
  2. Ki Ageng Pandan Arang
  3. Sunan Bayat (Sunan Pandan Arang II)
Di bawah Kesultanan Pajang dan Kesultanan Mataram 
  1. Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III (1553-1586)
  2. Mas R.Tumenggung Tambi (1657-1659)
  3. Mas Tumenggung Wongsorejo (1659 - 1666)
  4. Mas Tumenggung Prawiroprojo (1666-1670)
  5. Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674)
  6. Kyai Mertonoyo, Kyai Tumenggung Yudonegoro atau Kyai Adipati Suromenggolo (1674 -1701)


KABUPATEN KENDAL (JAWA TENGAH)

Kabupaten Kendal, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukota

nya adalah Kendal. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kota Semarang dan Kabupaten Semarang di timur, Kabupaten Temanggung di selatan, serta Kabupaten Batang di barat.


Sejarah

Umum

Nama Kendal diambil dari nama sebuah pohon yakni Pohon Kendal. Pohon yang berdaun rimbun itu sudah dikenal sejak masa Kerajaan Demak pada tahun 1500 - 1546 M yaitu pada masa Pemerintahan Sultan Trenggono. Pada awal pemerintahannya tahun 1521 M, Sultan Trenggono pernah memerintah Sunan Katong untuk memesan Pusaka kepada Pakuwojo.
Peristiwa yang menimbulkan pertentangan dan mengakibatkan kematian itu tercatat dalam Prasasti. Bahkan hingga sekarang makam kedua tokoh dalam sejarah Kendal yang berada di Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu itu masih dikeramatkan masyarakat secara luas. Menurut kisah, Sunan Katong pernah terpana memandang keindahan dan kerindangan pohon Kendal yang tumbuh di lingkungan sekitar. Sambil menikmati pemandangan pohon Kendal yang nampak "sari" itu, Beliau menyebut bahwa di daerah tersebut kelak bakal disebut "Kendalsari". Pohon besar yang oleh warga masyarakat disebut-sebut berada di pinggir Jln Pemuda Kendal itu juga dikenal dengan nama Kendal Growong karena batangnya berlubang atau growong.
Dari kisah tersebut diketahui bahwa nama Kendal dipakai untuk menyebutkan suatu wilayah atau daerah setelah Sunan Katong menyebutnya. Kisah penyebutan nama itu didukung oleh berita-berita perjalanan Orang-orang Portugis yang oleh Tom Peres dikatakan bahwa pada abad ke 15 di Pantai Utara Jawa terdapat Pelabuhan terkenal yaitu Semarang, Tegal dan Kendal. Bahkan oleh Dr. H.J. Graaf dikatakan bahwa pada abad 15 dan 16 sejarah Pesisir Tanah Jawa itu memiliki yang arti sangat penting.

Sejarah Berdirinya Kabupaten Kendal

Adalah seorang pemuda bernama Joko Bahu putra dari Ki Ageng Cempaluk yang bertempat tinggal di Daerah Kesesi Kabupaten Pekalongan. Joko Bahu dikenal sebagai seorang yang mencintai sesama dan pekerja keras hingga Joko Bahu pun berhasil memajukan daerahnya. Atas keberhasilan itulah akhirnya Sultan Agung Hanyokrokusumo mengangkatnya menjadi Bupati Kendal bergelar Tumenggung Bahurekso. Selain itu Tumenggung Bahurekso juga diangkat sebagai Panglima Perang Mataram pada tanggal 26 Agustus 1628 untuk memimpin puluhan ribu prajurit menyerbu VOC di Batavia. Pada pertempuran tanggal 21 Oktober 1628 di Batavia Tumenggung Bahurekso beserta ke dua putranya gugur sebagai Kusuma Bangsa. Dari perjalanan Sang Tumenggung Bahurekso memimpin penyerangan VOC di Batavia pada tanggal 26 Agustus 1628 itulah kemudian dijadikan patokan sejarah lahirnya Kabupaten Kendal.
Perkembangan lebih lanjut dengan momentum gugurnya Tumenggung Bahurekso sebagi penentuan Hari jadi dinilai beberapa kalangan kurang tepat.Karena momentum tersebut merupakan sejarah kelam bagi seorang tokoh yang bernama Bahurekso. Sehingga bila tanggal tersebut diambil sebagai momentum hari jadi dikhawatirkan akan membawa efek psikologis. Munculnya istilah "gagal dan gugur" dalam mitologi Jawa dikawatirkan akan membentuk bias-bias kejiwaan yang berpengaruh pada perilaku pola rasa, cipta dan karsa warga Kabupaten Kendal, sehingga dirasa kurang tepat jika dijadikan sebagai pertanda awal mula munculnya Kabupaten Kendal.
Dari Hasil Seminar yang diadakan tanggal 15 Agustus 2006, dengan mengundang para pakar dan pelaku sejarah, seperti Prof. Dr. Djuliati Suroyo ( guru besar Fakultas sastra Undip Semarang ), Dr. Wasino, M.Hum ( dosen Pasca Sarjana Unnes ) H. Moenadi ( Tokoh Masyarakat Kendal dengan moderator Dr. Singgih Tri Sulistiyonoserta setelah diadakan penelitian dan pengkajian secara komprehensip menyepakati dan menyimpulkan bahwa momentum pengangkatan Bahurekso sebagai Bupati Kendal, dijadikan titik tolak diterapkannya hari jadi. Pengangkatan bertepatan pada 12 Rabiul Awal 1014 H atau 28 Juli 1605. Tangal tersebut persis hari Kamis Legi malam jumat pahing tahun 1527 Caka. Penentuan Hari Jadi ini selanjutnya ditetapkan melalui Peraturan Daerah ( PERDA ) Kabupaten Kendal Nomor 20 Tahun 2006, tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten Kendal ( Lembaran Daerah no 20 Tahun 2006 Seri E nomor 15 )

Pemerintahan Kabupaten Kendal sekarang dan zaman dulu

Kaliwungu pernah berjaya sebagai pusat pemerintahan sejak awal berdirinya Kabupaten Kendal. Namun karena kondisi perpolitikan di pusat Mataram pada waktu itu dan adanya pertimbangan untuk perkembangan pemerintahan, menyebabkan pusat pemerintahan tersebut pindah ke kota Kendal hingga sekarang. Sehingga akhirnya Kaliwungu hanya digunakan untuk tempat tinggal kerabat Ayah Bupati yang sering disebut sebagai Kasepuhan. Sedangkan pemerintahannya dijadikan sebagai daerah administrasi yaitu Distrik Kaliwungu.



Geografi

Kondisi geografis

Kabupaten Kendal terletak pada 109°40' - 110°18' Bujur Timur dan 6°32' - 7°24' Lintang Selatan. Batas wilayah administrasi Kabupaten Kendal meliputi :
  • Utara : Laut Jawa.
  • Timur : Kota Semarang.
  • Selatan : Kabupaten Semarang dan Kabupaten Temanggung.
  • Barat : Kabupaten Batang.
Jarak terjauh wilayah Kabupaten Kendal dari Barat ke Timur adalah sejauh 40 Km, sedangkan dari Utara ke Selatan adalah sejauh 36 Km.
Kabupaten Kendal mempunyai luas wilayah sebesar 1.002,23 Km2 yang terbagi menjadi 20 Kecamatan dengan 265 Desa serta 20 Kelurahan.


Kondisi topografi

Secara umum, wilayah Kabupaten Kendal terbagi menjadi 2 (dua) daerah dataran, yaitu daerah dataran rendah (pantai) dan daerah dataran tinggi (pegunungan). Wilayah Kabupaten Kendal bagian utara merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 0 - 10 meter dpl, yang meliputi Kecamatan :
  1. Weleri.
  2. Rowosari.
  3. Kangkung.
  4. Cepiring.
  5. Gemuh.
  6. Ringinarum.
  7. Pegandon.
  8. Ngampel.
  9. Patebon.
  10. Kendal, Kendal.
  11. Brangsong.
  12. Kaliwungu, Kendal.
Wilayah Kabupaten Kendal bagian selatan merupakan daerah dataran tinggi yang terdiri atas tanah pegunungan dengan ketinggian antara 10 - 2.579 meter dpl, meliputi Kecamatan :
  1. Plantungan.
  2. Pageruyung.
  3. Sukorejo.
  4. Patean.
  5. Boja.
  6. Limbangan.
  7. Singorojo.
  8. Kaliwungu Selatan.

    Budaya dan Adat

    Kabupaten Kendal kaya dengan kegiatan budya baik yang bersifat tradisional maupun agamis seperti Syawalan Kaliwungu (event ini sudah terkenal hampir diseluruh Pulau Jawa), Sedekah Laut Tanggul Malang, Pesta Laut Tawang dan Pantai Bandengan. Disamping itu terdapat beberapa makam dari tokoh-tokoh adat maupaun penyebar Agama Islam diantaranya adalah Makam Pangeran Djuminah, Kyai Asyari, Sunan Katong, Paku Wojo yang terletak di Kecamatan Kaliwungu, Makam Pangeran Benowo di Kecamatan Pegandon dan Makam Kyai Seapu di Kecamatan Boja. Di cepiring juga ada pasar cepiring dan berbagai macam padagang di antara toko sepeda BMS yang dari dulu sudah ada di sana.

    Pariwisata

    Salah satu obyek wisata terkenal di Kabupaten Kendal adalah Curug Sewu, yakni air terjun tiga tingkat setinggi 80 meter, terletak di Kecamatan Patean (perbatasan dengan Kabupaten Temanggung).
    Beberapa obyek pariwisata lain di Kabupaten Kendal:
  9. Pemandian air panas Gonoharjo Nglimut di lereng Gunung Ungaran
  10. Pantai Muara Kencan di Kecamatan Cepiring
  11. Pantai Sendang Sekucing di Kecamatan Rowosari.
  12. Agrowisata kebun teh Medini di Kecamatan Limbangan, dimana tampak pemandangan Kota Semarang dari atas di Gunung Ungaran yang berketinggian 2.100 meter
  13. Goa Kiskendo di Kecamatan Singorojo; goa ini mempunyai legenda tentang Mahesa Sura dan Lembu Sura serta Sugriwa dan Subali
  14. Kolam Renang Boja di Kecamatan Boja. Di tempat ini ada tersedia dua kolam yaitu kolam olympic dan kolam untuk anak anak. Wisata ini .berada di pusat Kecamatan Boja.
  15. Agrowisata Sekatul. Terletak di Kecamatan Limbangan, sekitar 30 km ke arah selatan dari Kendal. Terdapat perkebunan buah stroberi dan buah-buahan lainnya, pemancingan, serta taman bermain untuk anak anak.
  16. Srendeng Agrowisata. Terletak di Desa Curugsewu, Kecamatan Patean, merupakan wisata Agro berbasis pendidikan terdiri dari Wisata Kebun, Peternakan, Pertanian, Outbound, Mebel dan village tour.

Sumber