Showing posts with label GUNUNG. Show all posts
Showing posts with label GUNUNG. Show all posts

Friday, March 15, 2013

GUNUNG BAWAKARAENG



Gunung Bawakaraeng berdiri dengan ketinggian 2.830m d.p.l, dan berada pada posisi 119°56′40″ BT dan 05°19′01″ LS. dan suhu minimum adalah sekitar 17°C hingga maksimum 25°C. Hutan gunung ini didominasi oleh vegetasi hutan dataran rendah, hutan pengunungan bawah dan hutan pegunungan atas. Tumbuhan yang banyak ditemui diantaranya Jenis pinus, anggrek, edelweis, paku-pakuan, pandan, cengkeh, santigi, rotan, lumut kerak dan lain sebagainya. Sedangkan untuk jenis fauna yang bisa ditemui antara lain, Anoa, babi hutan, burung pengisap madu, burung coklat paruh panjang dan lainnya. 

Gunung ini merupakan darah tangkapan air untuk Kabupaten Gowa, Makassar dan Sinjai. Juga merupakan hulu sungai Jene’ berang. Serta merupakan Kawasan Hutan Wisata. Gunung ini juga termasuk kedalam kawasan Hutan Lindung Lompobatang. Gunung Bawakaraeng yg menurut masyarakat sekitar punya arti Bawa = Mulut dan karaeng = Tuhan, kalau diartikan menjadi Gunung Bawakaraeng = Gunung Mulut Tuhan, termasuk kedalam wilayah kawasan Hutan Lindung Lompobatang. 

Pada bulan menjelang Idhul Adha, Gunung ini menurut penduduk akan menjadi sangat ramai, karena sebagian kecil masyarakat di kabupaten Gowa percaya, kalau mendaki Gunung bawakaraeng, sama dengan melakukan perjalanan ke Tanah Suci, jadilah istilah Haji Bawakaraeng. Gunung Bawakaraeng yg posisinya sangat dekat dengan laut, juga pada malam hari kota Makassar terlihat begitu indah dari puncak bawakaraeng, ternyata gunung ini menyimpan banyak misteri, dan banyak juga legenda Mistis yg melekat di gunung ini. 

Dibalik itu, sebagai gunung yg paling sering dikunjungi dan pada bulan – bulan di musim penghujan, kondisi cuaca di gunung ini menjadi sangat buruk dan sering terjadi badai di pegunungan lompobatang. Waktu kunjungan terbaik biasanya di anjurkan pada bulan Mei – September, karena pada bulan tersebut cuaca lumayan baik dan pemandangan alam akan begitu terlihat indah. Gunung ini hanya berjarak 75 km dari Kota Makassar dan menjadikan gunung favorites bagi pendaki di Kota Makassar dan sekitarnya.




Rute Pendakian
Secara Geografis, Gunung Bawakaraeng terletak di Kabupaten Gowa, akan tetapi pencapaian menuju puncak gunung ini dapat dilakukan dari dua jalur yaitu, jalur Lembanna yang juga terletak di kabupaten Gowa. Dan jalur satunya adalah jalur Tassoso’ yang terletak di Kabupaten Sinjai.

JALUR LEMBANNA
Lembanna terletak disebelah Utara Laut puncak Bawakaraeng. Daerah ini juga berada tepat dikaki gunung Bawakaraeng dengan ketinggian 1.400m d.p.l, pada posisi koordinat 119°54′18″ BT dan 05°15′15″ LS. Mata pencaharian penduduknya adalah bertani. Curah hujan rata-rata adalah 2.034mm/tahun dengan suhu udara minimum 15°C dan maksimum 20°C. umumnya penduduknya ber etnik Makassar atau penduduk asli, dan umumnya rumahnya bersedia digunakan untuk bermalam. Desa yg termasuk dalam kecamatan Tinggi Moncong, kabupaten Gowa, lebih dikenal dengan daerah Wisata Malino.Masyarakat desa Lembana ini sangat ramah dan bersahabat, banyak pendaki yang menginap gratis di rumah penduduk sebelum mendaki, Tiap akhir pekan tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh Pendaki yang ingin mendaki gunung Bawakaraeng ataupun orang yang hanya sekedar santai menikmati hari libur dikaki gunung Bawakaraeng. Urutan pencapaian dari Makassar sebagai berikut:
Makassar–> Sungguminasa–> Malino–> Lembanna–> Puncak Gunung Bawakaraeng.

Jika datang dari Makassar atau dari Luar pulau sulawesi, naik angkutan Kota menuju ke Terminal Gowa, atau bisa juga Turun di perempatan Sunggu Minasa, Jalan arah ke Malino. Dari sini, Naik Angkutan Pedesaan jurusan Malino, waktu tempuh kurang lebih 2-3 jam perjalanan. 

Biasanya Sopir angkutan sudah hafal, kalau ada pendaki yg akan mendaki Bawakaraeng, Sopir Angkutan akan mengantar sampai ke Desa lembanna. Desa terakhir di kaki gunung Bawakaraeng. Tariff per Orang Rp. 8000. para pendaki pada umumnya bermalam terlebih dahulu di Desa lembanna, yg punya ketinggian 1400 Mdpl, baru keesokan paginya pendakian dimulai. Atau bisa juga melakukan pendakian pada Malam hari.

Desa Lembanna
Pendakian dimulai dari Desa Lembanna, medannya berupa perkebunan penduduk lalu mulai masuk pintu Hutan Pinus dan untuk mencapai Pos 1 dibutuhkan waktu 1-2 jam perjalanan.

Pos 1
Dari Pos 1 yg ketinggian mencapai 1650 mdpl, pendakian terus landai hingga mencapai Pos 2, diperlukan waktu tak lebih dari 1 jam perjalanan, disini tersedia mata air yg mengalir.

Pos 2
Perjalanan belum terlalu mendaki, masih landai dan mulai masuk vegetasi hutan khas sulawesi, waktu tempuh tak berbeda dengan dari Pos 1 ke Pos 2,

Pos 3
Di pos 3 juga tersedia mata air dan bisa mendirikan Tenda.

Pos 4
Pos 4 di tempuh dalam waktu lebih dari 1 Jam perjalanan dan perjalanan di lanjut hingga Pos 5, di pos 5 terdapat mata air, hanya saja lumayan jauh. Biasanya I Pos 5 digunakan untuk bermalam.

Pos 5
Dari Pos 5, perjalanan mulai mendaki dan sepanjang perjalanan akan melewati Pohon-pohon yg tumbang karena dari Pos 5 – 6, hutannya habis terbakar, kalau mendaki malam hari sebaiknya berhati-hati, karena disini biasanya pendaki sering tersasar, karena jalur tak begitu terlihat.

Pos 6
Ketika tiba di Pos 6, perjalanan masih melalu hutan yg lumayan lebat, perjalanan terus melandai dan mulai mendaki dan hutan mulai menghilang berganti vegetasi hutan yg berbeda dan setelah 2 jam perjalanan, akan tiba di Pos 7, yg punya ketinggian 2710 mdpl.

Pos 7
Di Pos 7 pemandangan sangat indah dan lumayan terbuka. Dipos 7 inilah yg sering terjadi badai.

Pos 8
Dari Pos 7 menuju Pos 8, jalur mulai naik turun, di sepanjang jalur ini terdapat 2 kuburan dan ada pula In-memoriam pendaki yg tewas, setelah melewati 2 bukit yg punya ketinggian rata-rata 2700 mdpl, jalur akan menurun dan Tiba di Pos 8, disini tersedia mata air, dan biasanya pendaki bermalam disini baru keesokan paginya menuju puncak Bawakaraeng. Pemandangan rumput savana dan puncak bawakaraeng terlihat dari pos 8 ini, suhu pada malam hari antara 8-10 derajat.

Pos 9
Setelah melewati padang savana dan ada kebun edelweis maka akan Pos 9 di tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan, di pos 9 juga bisa digunakan untuk mendirikan tenda.
Pos 10
Pos 10 adalah Puncak Bawakaraeng. Untuk mencapai puncak bawakaraeng, tidak lah terlalu sulit, walaupun sedikit mendaki. Setelah menempuh kurang lebih ½ jam perjalanan, maka akan tiba di Puncak Bawakaraeng. Sebaiknya sebelum menuju puncak perhatian kondisi alam di puncak, terkadang angin bertiup lumayan kencang.
Rute alternative bisa juga menggunakan jalur lintas, yaitu melewati lembah Rama, dari Pos 1 ada percabangan jalan, ambil jalur kanan dan tembuh di Pos 8, jalur ini lumayan panjang dan melewati lembah yg lumayan luar, bisa melihat Air Terjun Taka Palu yg punya ketinggian 50 meter. Rute Alternative lintas LompoBatang, Pendakian bisa juga lintas ke Gunung LompoBatang melalui puncak bawakaraeng dan Turun di Kabupaten Gowa, menurut informasi dibutukan waktu 3 hari perjalanan.

JALUR TASSOSO

Dusun Tassoso’ terletak disebelah Timur Laut puncak Gunung Bawakaraeng. Daerah ini yang berda tepat dibawah kaki gunung ini dan berada pada ketinggian 1.320m d.p.l, pada posisi koordinat 119°58′38″ BT dan 05°58′55″ LS. Mata pencaharian penduduknya adalah bertani. Curah hujan rata-rata adalah 78.7mm/tahun dengan suhu udara minimum 15°C dan maksimum 27°C. Urutan pencapaian dari Makassar sebagai berikut:
Makassar–> Sinjai Barat (Manipi)–> Gunung Perak (Tassoso)–> Puncak Gunung Bawakaraeng

Keadaan Puncak

Ketika tiba dipuncak Bawakaraeng, pemandangan di puncak ini termasuk yg paling bagus di sulawesi, tak heran setiap minggu gunung ini ramai di daki oleh para pendaki yg umumnya datang dari Sulawesi selatan, juga dari propinsi lainnya. Terdapat Sumur yg dikeramatkan oleh masyarakat, biasanya mereka mengambil air dari sumur tersebut untuk di bawapulang, juga terdapat batu yg biasa digunakan untuk sesajen. Luas puncaknya kurang lebih 100 m2, pemandangan Laut dan Kota Makassar di arah barat, di arah Timur Awan terlihat tebal dan terdiam menggumpal, di arah selatan terlihat Gunung Bulusaraeng dan arah selatan, adalah Gunung LompoBatang 2871 mdpl, bisa dilintasi lewat Gunung Bawakaraeng. Waktu tempuh untuk pendakian Gunung Bawakaraeng, kalau dirata-rata dari Desa Terakhir kira-kira 6 – 8 jam perjalanan.

Perijinan

Tidak ada perijinan yang berbelit-belit untuk mendaki gunung ini, hanya perlu melapor ke kepala desa setempat dan untuk lebih baiknya menyertakan surat jalan yang dilampiri data lengkap para pendakinya.
Keberadaan Porter Didesa lembanna, kebanyakan penduduk bersedia untuk mengantar dan sekaligus menjadi Porter, hanya saja tak ada tariff yg jelas. Tergantung kesepakatan.

GUNUNG LOMPOBATTANG



Gunung Lompobattang yang tinggi puncaknya mencapai 2871 mdpl, Gunung Lompobattang  adalah tipe gunung yang tidak berapiGunung Lompobattang terletak di kabupaten gowa, Sulawesi selatan. Gunung Lompobattang seperti gunung yang lainya yang berada di sulawesi Gunung Lompobattang ini menjadi objek pendakian para KPA Atau organisasi.



Mengenai Gunung Lompobanttang
Gunung Lompobattang, Vegetasi alam jalur pendakian Gunung Lompobattang diantaranya hutan pinus, perkebunan, Hutan produksi, hutan primer, dan bebatuan, Gunung Lompobattang  sudah amat jarang di temui babi hutan dan burung-burung.


Gunung Lompobattang, jalur pendakian Gunung Lompobattang pertama kita menuju kec.tompobulu kab. gowa dan minta surat izin jalan di lembang bune. rute dari lembang bune cuma 1 jalur yang normal dan selama pendakian sampai ke puncak 8 jam waktu yang suda maksimal cepat. 
Pos I Ke Pos III melewati kawasan hutan pinus, perkebunan rakyat dan sungai kecil dengan jalan setapak, waktu tempuh 70 menit.
Pos III Ke V melewati kawasan hutan produksi dengan waktu tempuh 90 menit.
Pos V Ke Pos VII melewati kawasan hutan primer dengan waktu tempuh 60 menit.
Pos VII ke Pos IX menuruni bebatuan dan meniti pada akar kayu dengan waktu tempuh 90 menit
Pos IX merupakan tempat camp terakhir sebelum melanjutkan perjalanan ke Pos X (Top), waktu tempuh 30 menit dengan kondisi jalur menanjak dan melewati bebatuan dan akar kayu tunuk mencapai puncak Gunung Lompobattang

Mengenai Gunung Lompobanttang

GUNUNG BULUSARAUNG



Gunung Bulusaraung adalah salah satu Gunung di Sulawesi Selatan lokasinya berada diantara Kab. Pangkep dan Kab. Maros, tepatnya di Kec. Balocci Desa Tompobulu dengan ketinggian gunungmencapai 950 Mpdl.





Gunung Bulusaraung ini juga termaksud salah satu Gunung di Sulawesi Selatan yang banyak dikunjungi baik itu para wisatawan luar Sulawesi Selatan maupun para Pendaki Gunung. Untuk menuju ke puncak Gunung Bulusaraung hanya perlu menempuh jarak sekitar 4-5 jam dari pemberhentian terakhir atau biasanya disebut POS 0 di Desa Tompobulu.


Gunung Bulusaraung yang memiliki ketinggian 1.353 Mdpl ini walapun tidak termaksud Salah satuGunung tertinggi di Sulawesi Selatan Tetapi memiliki Jalur yang cukup menantang dan sedikit extrem apalagi saat musim hujan pastinya agak kesulitan untuk menempuh jalur sesuai waktu yang ditentukan apa lagi buat Pendaki atau wisatawan yang mendaki ke Gunung Bulusaraung untuk pertama kali.


Tetapi walapun jalurnya sedikit sulit ada beberapa Pos peristirahatan sejenak yang memiliki Pemandangan yang cukup Indah, sehingga dapat mengobati rasa lelah dalam perjalanan tadi. selain itu di Gunung Bulusaraung juga terdapat beberapa species Flora dan Fauna diantaranya Tumbuhan Rotan, Kemiri, Kelapa Serta Beberapa Tumbuhan warga yang sengaja ditanam di sekitar jalur pendakian Gunung Bulusaraung, Kera hitam (maccaca maura) Kupu – kupu (triodes holiptron), Musang (macrogolidia masenbraiki) dfan masih banyak yang laingnya.

Gunung Bulusaraung memiliki 9 pos yang sengaja di bangun oleh pemerintah setempat untuk peristrahat bagi parang wisatawan atau pendaki, jarak dari Pos ke Pos hanya membutuhkan waktu 30 Menit. Biasanya Para Pendaki jika ingin Menginap di Gunung Bulusataung ini membuat BaseCamb di Pos 9, karena jarak dari Pos 9 atau Pos terakhir sebelum Puncak hanya membutuhkan waktu 30 Menit.



 untuk sampe ke Puncak Gunung Bulusaraung, bagi para pendaki misalnya puncak adalah tujuan utama dalam kegiatan pendakian dengan melalui Jalur yang cukup Terjal dan Bebatuan Lepas. Puncak Gunung Bulusaraung ditandai dengan adanya Pemancar Radio Milik BTNBB dan tentunya Tugu atau biasanya disebut TREANGGULASI oleh Para Pendaki Gunung

Thursday, March 14, 2013

GUNUNG WELIRANG


Gunung Welirang, mungkin bukanlah gunung favorit para pendaki di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Dibadingkan Gunung Semeru, Raung dan Argopuro, Puncak Welirang dan Arjuno tidaklah begitu mentereng dan popular. Namun lain gunung lain cerita, “Welirang-Arjuno Siji mane Cak” begitu kata orang Surabaya.

Para pendaki yang sudah berkelana kemana-mana pasti tidak akan melupakan “ sentuhan siksaan dan tanjakan ASU (anjing-nama yang baru kami berikan)” jalur menuju dua puncak ini, khususnya yang melalui jalur Tretes. “Asu Tenan” kata teman saya dari Jogja, adalah gambaran singkat, padat dan jelas mendeskripsikan jalur naik dan turun melalui Pos Tretes.


Gunung Welirang walaupun tingginya hanya 3156 mdpl, memiliki pesona tersendiri yang membuat orang menuju padanya. Walaupun lintasannya berbatu rapih dan bisa dilalau Jeep penambangjalur ini tidaklah mudah ditaklukkan. “Siapkan betis dan lutut anda baik-baik” karena jalur berbatu sepanjang 13 km dari Pet Bocor sampai Pos Pondokan telah siap mengurut kaki. Bila masuk melalui Pos Tretes, setelah mengurus perijinan (retribusi Rp. 4000 dan 1 lembar fotocopy KTP), perjalanan dimulai dengan melintasi jalur berbatu setelah pos dan jalan beraspal menuju Pet Bocor (Pipa Bocor) selama kurang lebih 45 menit. Pet Bocor bisa juga digunakan sebagai camp persiapan, karena tersedia camping ground yang cukup luas dan ada warung makan.Dari Pet Bocor inilah kisah sengsara dimulai, jalur berbatu yang tersusun rapih siap memberikan pijat refelksi bagi telapak kali.

Setelah melalaui jalan berbatu selama ± 3,5 jam, pendaki bisa menemukan pos Kop-Kopan. Disini terdapat shelter yang juga dimanfaatkan sebagai warung, mata air bersih dan camping ground. Bagi yang berniat camp dipos ini, bisa mewaspadai badai yang kadang datang tiba-tiba karena minimnya pelindung (pohon ) dipos ini dan terlampau terbuka. Dari Kop-kopan kisah sengsaranya berlanjut selama ± 4 jam melalau jalan berbatu yang mulai kurang taratur. Setelah berjalan ± 1,5 jam, sampailah ditanjakan ASU, tanjakan lurus sepanjang 300m dengan kemiringan 30®. Butuh waktu 45 melewati tanjakan ini “asu tenan !!!”. Setelah melalui tanjakan ini, bisa sedikit berlega karena setelah itu jalur menuju Pondokan tidak ada lagi jalur serupa walaupun masih harus melalui tanjakan berbatu. Waktu tempuh dari Kop-kopan menuju Pondokan ±4jam.



Di Pos Pondokan, akan ditemukan banyak gubug kecil para penambang belerang dan sumber air bersih dan camping ground. Disarankan para pendaki agar membagung camp agak berjauhan dari gubug atau setelah sumber air, selain karena banyak tikus, ada masalah sosial lainnya (walaupun aksidental) yang sering terjadi. Bagi penikmat fotografi, gubug dan aktivitas petambang bisa menjadi obyek foto yang manarik. Tapi juga perlu waspada karena kadang obyek fotonya meminta imbalan sebagai model.

Untuk menuju puncak Welirang dari Pondokan memakan waktu tempuh selama ±3,5 jam dan sebaiknya memulai perjalanan pada saat subuh. Selain menghindari terik mata hari, perjalan subuh memberikan pengalaman yang berbeda karena disuguhkan panorama kota pada malam hari, khususnya dari pelawangan. Dari tempat ini juga bisa menikmati sun rise yang tentunya obyek fotografi yang menarik. Melalui vegetasi cemara, tanaman perdu, edelweis dan jalur berbatu yang mengitari puncak, akan tersuguh pemadangan yang menakjubkan. Kabut tipis dan embun yang membias terterpa cahaya pagi hari, desiran angin dingin yang menusuk dan kerlipan lampu kota dalam rona fajar. Sebaiknya moment ini jangan dilewatkan unutk difoto, karena pencahanya naturalnya memberikan efek photo yang bagus.

Jalur kapuncak Welirang ditandai persimpangan, ke kiri menuju Dapur Belerang dan kekanan menuju Puncak. Sebelum kepuncak, sempatkan mengabadikan Gua Sriti. Gua cukup luas di dekat Puncak gunung Welirang dahulunya digunakan Belandasebagai penangkaran Kijang dan pernah dibangun sebuah villa. Terdapat batu-batu pondasi bekas pagar dan bangunan-bangunan villa serta kandang kijang. Terdapatjuga sebuah makam keramat di dekat gua tersebut yang diyakini oleh para penambang belerang sebagai makam Mbah Tedjo Geni.

Dipuncak Welirang akan tersugug panorama beberapa kawah bekas letusan, dengan tumpukan belarang dan asap mengepul dari dasar kawah. Dari puncak Welirang tanpak dari kejauhan puncak Semeru yang diselimuti awan dan puncak Arjuno serta beberapa puncak gunung lainya. Pengunjung sebaiknya melingkapi diri dengan masker/slayer basah bila berada dipuncak Welirang karena gas Belerangnya cukup tinggi, dan disarankan agar tidak beristirahat terlampau lama apa lagi tertidur karena bisa mengancam keselamatan. Puncak Welirang sebaiknya didatangi sebelum pukul tujuh pagi, karena setelah itu gas belerang dan kabut semakin pekat.

Bila memutuskan unutk turun kembali melalui jalur Tretes, turunan batu yang dilewati sebelumnya saat naik menunggu anda. Kaki anda akan dimanjakan dengan pijatan maha dahsyat, apalagi bila turun hujan yang membuat pijakan menjadi sulit. Akan terasa pos perijinan bukanya semaki dekat malan menjauh. Namun demikan dijamin cerita baru yang didapatkan akan sangan membekas dihati dan kaki. Welirang beda dengan yang lainya, karena pendaki tidak hanya disuguhi puncak namun juga pijat plus-plus. Salam Satu Bumi, Satu Hati.

Travel guide : Perlengkapan wajib: Sepatu Traking, Carier, Raincoat, Tenda, Jaket, Slayer/Masker dan logistik sesuai dengan lama waktu perjalanan. Sebaiknya membawa serta obat anti nyeri /counterpain, plaster dan perban luka. Transportasi : Dari Terminal Bungurasih,Surabaya naik bis Jurusan Malang (Patas: 15 ribu, Ekonomi : 5 ribu) turun di Terminal Pandaan. Dari Terminal Pandaan naik angkot ke Pos Tretes 5-7 ribu.

GUNUNG DEMPO


Palembang merupakan Ibu kota dari Sumatera Selatan, di kota ini terdapat sebuah gunung yang cukup menarik banyak pendaki Karena keindahan kawahnya.  Gunung tersebut adalah Gunung Dempo.
Gunung Dempo merupakan gunung dengan ketinggian ± 3159m dpl, yang menarik dari gunung ini selain pemandangannya yang begitu indah dengan kebun teh yang menghampar berhektar-hektar juga adalah kawahnya yang bisa berubah warna pada waktu-waktu tertentu. Warna kawahnya terkadang putih , biru atau hijau. Desa terdekat dari Gunung dempo adalah kampung ampat, desa ini memiliki keunikan, masyarakatnya hampir semuanya berasal dari suku Jawa, bahasa yang digunakan pun bahasa jawa, masyarakat yang ada sekarang merupakan keturunan dari para transmigran dari daerah Jawa, pada masanya desa ini menjadi daerah tujuan trasnmigrasi.

Tidak diperlukan ijin khusus untuk mendaki gunung ini, cukup melapor ke kepolosian setempat. Kuncen gunung ini adalah pa Anton , yang bertempat tinggal di dekat pabrik PTPN gunung dempo.
Akses menuju Gunung Dempo
Gunung Dempo secara administratif terletak Kecamatan Pagar Alam, untuk menuju kesana dari  Jakarta kita bisa langsung menggunakan travel sinar dempo, yang berkantor di kalideres. Tarifnya Rp 160.000,-/orang, waktu tempuhnya ± 21 jam,  travel ini akan mengantar kita sampai kota Lahat, dari Lahat kita lanjutkan dengan menaiki bus telaga biru , tarifnya Rp 30.000,-/orang sampai di pabrik PTPN Gunung dempo dengan waktu tempuh ± 3 jam. Dari sini kita hanya perlu berjalan kaki menuju rumah Pa Anton sekitar 100m , di rumah Pa Anton kita dapat menginap, untuk menunggu truk yang menuju kampung ampat keesokan harinya . Truk ini biasa mengangkut para karyawan PTPN ke kebun teh untuk memetik teh. Tidak ada tarif khusus yang diberikan oleh supir truk, kita cukup memberikan uang secukupnya untuk ucapan terima kasih, waktu tempuhnya ± 1 jam.


Jalur pendakian
                Dari kampung Ampat kita akan berjalan kita akan menuju pintu rimba, jalannya berupa jalan aspal berkerikil yang mengitari kebun teh. Jalannya berliku-liku , patokan menuju pintu rimba adalah plang perhutani. Dari plang tersebut kita akan mulai memasuki jalur hutan, disini jalurnya masih berupa semak-semak dan kebun teh. Waktu tempuh dari Kampung Ampat sampai pintu rimba ± 1jam.


Dari pintu Rimba perjalanan kita lanjutkan menuju shalter 1, diawal penrjalanan jalurnya berupa gorong-gorong setinggi pinggang orang dewasa, jalurnya di dominasi oleh tanah lempung, jsetelah melewari gorong-gorong kita akan bertemu jalur yang cukup ekstrem , jalurnya sudah mulai terjal dengan kemiringan ± 75° , undakannya mencapai pinggang orang dewasa. Jlaurnya di dominasi oleh tanah berakar. Waktu tempuhnya ± 1,5jam . Shalter 1 berupa tanah lapang yang cukup untuk dua tenda, disini juga kita akan menemui sumber air, yang berada ± 75 meter kearah kanan bawah jalur. Jenis vegetasi dalam perjalanan ini masih berupa pohon-pohon besar hutan tropis.
Perjalanan selanjutnya adalah menuju shalter 2 , dalam perjalanan ini kita masih disugukan oleh jalur eksterm gunung Dempo, kemiringan jalurnya masih berkisar antara 75°-80°, dominasi jalurnnya berupa akar-akaran , yang menuntut penggunaan tangan lebih aktif dan penguasaan teknik scrambling.  Waktu tempuh dari shalter 1 sampai shalter 2 ± 46 menit. Shalter 2 ini berupa tanah lapang  yang cukup untuk tiga tenda, disini terdapat sumber air di sebelah kanan jalur kearah bawah ± 50 meter. Jenis vegetasinya masih berupa pohon-pohon besar jebis hutan tropis. Baik di shalter 1 dan shalter 2 da papan penunjuk yang menandakan keberadaan shalter tersebut.
Selanjutnya kita akan menuju puncak dempo, Karakter jalur dan vegetasi dari shalter 2 menuju puncak dempo terbagi dua , pada awal pendakian   masih berupa undakan-undakan setinggi pinggang orang dewasa. Kemiringan jalunya juga masih berkisar antara 75°-80°, jenis vegetasinya berupa pohon-pohon kecil yang berlumut, teknik scrambling masih sangat dibutuhkan pada awal pendakian ini. pohon centigi juga mulai bermunculan yang menandakan kita akan sampai pada batas vegetasi, setelah melewati batas vegetasi kita akan menemukan karakter yang berbeda pada jalunya, jalurnya berupa batuan cadas dengan kemiringan juga antara 75°-80°, disini dibutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi untuk melewati jalurnya, karena jalurnya sangat licin.  Setelah melewati batu cadas, sekitar setengah jam lagi kita akan sama[ai di puncak dempo, puncak dempo berupa tanah lapang yang masih ditumbuhi pepohonan centigi, dari puncak dempo kita melanjutkan perjalanan menuju pelataran, dibutuuhkan waktu hanya sekitar 15 menit, pelataran ini berupa alun-alin luas yang ditumbuhi pohon centigi dan beberapa tanaman endemik gunung Dempo, terdapat sumber air disini, letaknya cukup terlihat jelas karena berupa aliran sungai  kecil yang berujung pada sebuah telaga, telaga ini disebut telaga putri.
Puncak merapi merupakan puncak tertinggi Gunung Dempo , ketinggiannya ± 3159 m dpl, dari pelataran hanya dibutuhkan waktu ± 20 menit , dari sini kita dapat melihat keindahan kawah Gunung Dempo yang bisa berubah warna pada waktu-waktu tertentu, kadang air kawahnya berwarna putih, kadang hijau dan kadang biru. Waktu tempuh keseluruhan dari shalter 2 sampai puncak merapi ± 1,5 jam dengan catatan kita tidak membawa beban berat, cukup membawa snack dan perbekalan lain yang dibutuhkan.

GUNUNG KULAWI


Kulawi terletak di pegunungan bagian selatan 17 km dari Palu. Yang dikenal dengan budayanya yang unik. Kulawi merupakan kawasan pegunungan yang dikelilingi oleh ladang padi, sayuran dan cengkih.
Akan tetapi budaya tradisional tetap berakar kokoh di masyarakat. Dan festival dilaksanakan menurut tradisi lama. Pakaian wanita Kulawi cukup menarik yang dipakai ketika upacara . Disana terdapat penginapan untuk menginap milik Pemerintah.
Musik Bambu-Orcestra Traditional merupakan kebanggaan masyarakat dataran Lindu, Kulawi dan Poso. Suku-suku tersebut berdiam di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah sebagai bagian dari khasanah kebudayaan yang saat ini masih bertahan.
Tahun 1905 di Bulu Momi terjadi perang antara masyarakat Kulawi melawan kolonial Belanda dibawah pimpinan seorang pahlawan Kulawi yaitu Towualangi yang juga disebut Taentorengke. Ketika perang berlangsung, pada pada saat itu pula kolonial Belanda mulai berkuasa di Kulawi untuk menjadikan Kulawi sebagai daerah kerajaan, maka pada tahun 1906 Kolonial Belanda mengangkat Towualangi menjadi raja Kulawi yang pertama. Dan oleh kolonial Belanda wilayah dataran Lindu masuk kedalam wilayah administrasi Kerajaan Kulawi.

Sejarah menunjukkan bahwa pada mulanya penduduk Lindu terdiri 7 pemukiman yang disebut Pitu Ngata. Dan untuk mengatur tatanan hidup masyarakat Pitu Ngata itu, adalah sebuah lembaga yang disebut Maradika Ngata yang terdiri dari empat orang lembaga dengan sebutan 1. Jogugu, 2. Kapita, 3. Pabisara dan 4. Galara. Keempat Lembaga ini berfungsi sebagai Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif.
Ketika kolonial Belanda berkuasa di Kulawi, maka pada tahun 1908 dataran Lindu yang terdiri dari Pitu Ngata diresetlement menjadi 3 pemukiman yaitu mejadikan :
1. Penduduk yang bermukim di Langko dan Wongkodono dikumpulkan menjadi satu di Langko.
2. Penduduk yang bermukim di Olu, Luo, Palili dikumpulkan menjadi satu tempat pemukiman di Tomado.
3. Penduduk yang bermukim di Paku Anca, dikumpulkan menjadi satu tempat pemukiman di Anca.
Untuk Mengatur tempat pemukiman baru tersebut, maka pemerintah kolonial Belanda menunjuk Lakese menjadi Kepala Kampung yang pertama di tiga tempat pemukiman baru itu, dengan tugas pokok yaitu : membangun rumah tinggal penduduk di tempat pemukiman yang baru dan membuka areal persawahan penduduk di sekitar wilayah Langko. Sesudah penunjukan kepala kampung yang pertama Lakese, sesuai tuntutan perkembangan dari ke-tiga wilayah pemukiman tersebut, berdasarkan perencanaan pemerintah kolonial Belanda maka pemukiman baru menjadi 3 desa, yaitu desa Langko, Tomado dan Anca, sebagaimana yang ada sampai sekarang ini.
Pada tahun 1960 sesuai dengan perkembangan penduduk di kecamatan Kulawi, sebagian penduduk desa Lonca dan Winatu kecamatan Kulawi diresetlemen ke wilayah bagian selatan desa Langko yang disebut Puroo. Atas kebijakan pemerintah kecamatan Kulawi pada waktu itu, sehingga memicu berbagai reaksi keras dari masyarakat Lindu karena merasa integritas wilayahnya terganggu. Masalah yang memicu keadaan pada waktu itu terjadi penembakan hewan kerbau dan sapi secara brutal yang dilakukan oleh Londora Kodu, mantan Tentara KNIL sebagai pejabat kepala kampung Langko, yang ditempatkan oleh pemerintah kecamatan Kulawi yang dijabat oleh Ibrahim Bandu B.A.
Akibat masalah tersebut diatas, maka masyarakat 3 desa itu semakin sulit dikendalikan oleh pemerintah kecamatan Kulawi sehingga masyarakat Lindu diembargo perekonomiannya oleh pemerintah kecamatan Kulawi selama 3 bulan. Akibat embargo tersebut, masyarakat Lindu mengeluarkan ancaman untuk bergabung dengan kecamatan Sigi Biromaru. Ancaman masyarakat Lindu ditanggapi dengan serius pemerintah kecamatan Kulawi dengan mencabut kembali sanksi ekonomi tersebut. Setelah keadaaan masyarakat Lindu menjadi tenang, mulai saat itu pula desa Puroo sudah menjadi satu kesatuan wilayah dataran Lindu sehingga sampai saat ini, desa-desa dataran Lindu menjadi empat desa terdiri dari : Desa Puroo, Langko, Tomado dan Anca yang disingkat dengan PLTA. Dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan dan ketertiban masyarakat adat Lindu, kepala desa dibantu oleh lembaga adat desa. Dan diatas lembaga masing-masing desa dibentuk Lembaga Masyarakat Adat Dataran Lindu.
Masyarakat adat Lindu telah mengenal pembagian zona pemanfaatan dan perlindungan yang ditetapkan oleh nenek moyang mereka yaitu ;
1. Suaka Ngata.
Adalah keseluruhan wilayah adat yang dibatasi puncak bulu/gunung yang disebut diatas.
2. Suaka Ntodea.
Suaka Ntodea adalah wilayah pemanfaatan yang dapat dikonversi menjadi sawah atau tempat pemukiman. Hak pemanfaatan di Suaka Ntodea dibatasi oleh hak-hak perorangan (privat individual), seperti Ombo dan ketentuan lainnya, misalnya larangan menebang pohon enau.
Lahirnya hak perorangan (privat individual) dimulai ketika seseorang membuka Pangale (hutan perawan) untuk dijadikan ladang. Dahulu masyarakat Lindu masih menggunakan sistim perladangan berotasi. Masyarakat mengelolah lahan selama dua atau tiga musim, kemudian diistirahatkan dan membuka ladang di tempat lain, misalnya membuka hutan perawan yang baru atau mengolah ladang yang telah diistirahatkan. Ladang yang diistirahatkan disebut dengan Ngura. Jika seseorang membuka pangale dan menjadikan ladang, tetapi orang itu mengurunkan pengolahannya karena sesuatu pertimbangan, maka Ladang ini sebut Taluboo. Namun tanah itu sudah merupakan milik si pembuka Pangale tersebut.
3. Suaka Nu Maradika.
Suaka Nu Maradika atau diberi nama lain yaitu Lambara adalah tempat perburuan dan melepaskan hewan ternak kerbau. Dan terdapat beberapa lambara Nu Maradika, seperti di Walatana (dekat Langko), Bulu Jara (dekat Tomado), Tongombone (dekat Olu), Kana (dekat Luo/Palili), Bamba (dekat Paku), Malapi (dekat Anca), dan Keratambe (dekat Tomado).
4. Suaka Nuwiata.
Wiata dalam bahasa Lindu berarti roh makhluk yang sudah meninggal atau makhluk “halus”. Di kalangan orang Lindu yang masih memegang teguh tradisinya terdapat kepercayaan kuat yang meyakini bahwa roh orang yang sudah meninggal dunia sebenarnya mendiami daerah-daerah tertentu. Roh itu pada waktu-waktu khusus datang ke tempat sanak keluarganya yang masih hidup. Misalnya pada saat upacara adat panen.
Dalam tradisi orang Lindu, Suaka Nu Wiata adalah wilayah konservasi yang mutlak. Di tempat ini, seseorang tidak dibolehkan masuk apalagi sampai melakukan kegiatan menebang kayu atau kegiatan yang sifatnya merusak hutan. Pelanggaran terhadap ketentuan ini akan memperoleh sanksi adat yang berat.
Suaka Nu Wiata tidak hanya terletak di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk, tetapi juga terdapat di tempat yang dekat dengan perkampungan. Sehingga di tepi jalan antara desa Langko, Tomado dan Anca terdapat hutan yang cukup lebat. Hutan-hutan ini terletak jauh dari tapal batas Taman Nasional yang ditetapkan pemerintah.
Dalam wilayah Suaka Nu Wiata ini pula berdasarkan pengamatan, ternyata terdapat fokus keong. Dalam istilah kesehatan disebut penyakit Schistosomiasis. Sehingga keadaan ini patut menjadi perhatian pemerintah, dalam hal ini instansi Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala dalam upaya pemberantasan penyakit endemik Schistosomiasis dimasa mendatang.
Taman Nasional Lore Lindu ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 593/Kpts-II/19993 tanggal 5 Oktober 1993 dengan tujuan untuk melindungi areal ini yang memiliki fungsi lindung terhadap Daerah aliran sungai (DAS) Gumbasa, Palu dan Lariang.
Penetapan Taman Nasional Lore Lindu yang mencakup sebagian dari wilayah adat Lindu, sehingga dataran Lindu menjadi Enclave(Kantung penduduk di dalam kawasan yang tidak menjadi bagian dari kawasan lindung) di Taman Nasional Lore Lindu. Dari segi ekologi, penetapan sebagai Taman Nasional selayaknya disambut dengan gembira, karena kawasan itu kaya dengan keanekaragaman hayati. Daerah wilayah Taman Nasional Lore Lindu juga merupakan daerah tangkapan air untuk menyuplai sungai-sungai besar, seperti sungai Lariang yang bermuara di Mamuju, Sulawesi Selatan dan sungai Palu yang bermuara di teluk Palu, Sulawesi Tengah.
Semua desa di dataran Lindu saat ini telah memiliki dokumen KKM (Kesepakatan Konservasi Masyarakat) yang difasilitasi oleh The Nature Conservancy (TNC). KKM ini mengatur tentang pemanfaatan secara lestari dan perlindungan terhadap hutan di Taman Nasional Lore Lindu.
Pengakuan tentang masyarakat adat di Dataran Lindu. Aturan adat sangat sejalan dengan konservasi dan penduduk asli di Lindu tidak ada yang merambah hutan. Babirusa, Babi hutan, bahkan Rusa tidak kami buru dan makan, karena menurut kepercayaan setelah meninggal orang jadi rusa sehingga kami ada semacam rasa jijik untuk memakannya. Dengan datangnya pendatang seperti melalui program transmigrasi lokal tahun 1960an awal yang jadi kini desa Puro’o, atau orang Puroo yang pindah ke Kangkuro, saat itu banyak hutan yang dirambah dan satwa semacam rusa sudah susah dijumpai, padahal dulu banyak sekali. Dengan adanya KKM sekarang ini mudah bagi kami untuk memberikan pengertian bagi pendatang tentang adat dan budaya Lindu. Adanya KKM juga lebih menguatkan aturan Adat Lindu, karena wilayah KKM adalah bagian dari wana ngkiki atau suaka wiata yang harus kami jaga keberadaan dan kelestariannya demi menghormati leluhur.”

GUNUNG AWU


Gunung Awu adalah gunung berapi aktif bertipe stratovolcano dengan kawah yang sangat dalam seluas 4,5 KM persegi dan merupakan salah satu gunung berapi paling mematikan yang terletak di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Indonesia.

Gunung ini tercatat pernah menciptakan letusan dahsyat yang terjadi pada tahun 1711, 1812, 1856, 1892 dan terakhir kali pada tahun 1966 yang menelan lebih dari 8000 korban jiwa oleh lahar panas yang besar.

Kawah dengan lebar 4,5 km terdapat di puncak dengan jurang yang dalam dikelilingi celah raksasa di sepanjang lembah sebagai jalan lahar yang membelah sisi-sisi kawah.

Terdapat sebuah danau dangkal di dalam kawah yang terletak di puncak gunung. Dasar kawah yang dalam di kelilingi lembah setinggi 1.320 meter membuat gunung Awu sebagai gunung berapi dahsyat yang berada dalam cincin api.

Gunung ini terletak di sebelah utara Pulau Sulawesi dan dikelilingi oleh kepulauan Sangihe. Jalur pendakian untuk mencapai puncak gunung ini biasanya dimulai dari desa Anggis di pantai selatan yang berjarak sekitar 7 km dari kawah.

Perjalanan mendaki dimulai dengan menyusuri hutan kelapa untuk mencapai titik triangulasi sepanjang 350 meter dan kemudian akan sampai di Desa Kanaka, Panise dan terakhir Desa Panto Unema untuk mempersiapkan pendakian yang sesungguhnya.

Selanjutnya pendakian berat akan dimulai menuju ke puncak setinggi 500 meter dan masih bisa menemukan lahan tanaman pertanian, selanjutnya menembus lava keras setinggi 350 meter dan pendakian menjadi semakin mudah.




Tipe Gunungapi                                : Strato dengan danau kawah
Letak                                                      : Arsipel Sangihe, Kabupaten Taruna atau Tahuna dan Kabupaten Peta
Letak Geografis                                 : 3o 40’ Lintang Utara dan 125o 30’ Bujur Timur
Ketinggian (di atas muka laut)    : Puncak 1320 m; Danau Kawah 921,12 m
Kedalaman danau kawah              : Tahun 1922 => 150 – 172 m dan 1968 (2 tahun setelah letusan) => 5 – 10 m
Ketinggian (di atas dasar laut)    : 3300 m

BENTUK DAN STRUKTUR
Gunung Awu menempati daerah seluas 135 km2 terletak di bagian utara dari pulau Sangihe Besar dan bagian sebelah tenggara, jaringan lerengnya melandai teratur ke lautan yang mengelilinginya.
Lembah lahar yang dalam tampak di bagian atas dari kerucut rombakan yang datar dari kaki gunung. Puncak gunung Awu sekarang terjadi di dalam sebuah kaldera lama dengan garis tengah 4,5 km dan kapasitas kawah adalah 40 juta m3 air.

KEGIATAN
1640 – 1641Bulan Desember 1640, kemudian 3 -4 Januari 1641
Antara 1641-1677Letusan eksplosif dalam kawah pusat
171110 – 16 Desember. Letusan dengan awanpanas dan laharletusan dari kawah pusat, disusul lahar hujan. Daerah antara Tabuhan dan Taruna hancur. Korban manusia 3000 orang dengan rincian 2030 orang di Kendhar, di antaranya Raja Syamsialam; 70 orang di Koloza; 408 orang di Taruna.
18126 -8 Agustus. Letusan dan akibata serupa dengan yang terjadi dalam 1711. Pohon niur hancur di seluruh pantai, beratus-ratus penduduk Tabuhan, Khendar dan Kolengan menjadi korban.
18562 – 7 Maret. Letusan dan akibat serupa dengan yang sebelumnya. Awanpanas, laharletusan, dan laharhujan. Kampung Trijang dan pondok Pembalarian, Labakassin, Patung dan Hilang hancur sama sekali. Korban 2806 orang.
1875Bulan Agustus terjadi letusan kecil dari kawah pusat.
188518 Agustus. Sama dengan yang terjadi tahun 1875.
18927 Juni. Tipe letusan mengeluarkan awanpanas, laharletusan dan laharhujan. Hampir semua kampung sebelah pantai utara hancur, kampung yang paling parah ialah yang terletak antara Sawang dan Tabuka. Jumlah korban yaitu 1532 orang di daerah Mala, Akembuala, Anggis, Miteing, Kolongan, Metih dan Khendar Trijang akibat lahar.
1893Letusan preatik dari kawah pusat.
191314 Maret. Letusan kecil dari kawah pusat.
1921Bulan Februari. Terjadi letusan preatik.
192220 Juni – September. Terjadi letusan preatik.
193115 Maret terjadi letusan. Tanggal 7 April  tampak doma lava di bawah dekat permukaan danau. Pembentukannya terus berlangsung, hingga Desember mencapai tinggi 80 m.
196612 Agustus. Letusan berupa awanpanas, lahar letusan dan material jatuhan piroklastik yang mengakibatkan 39 orang korban. Pada tanggal 10 Agustus terjadi gempa tektonik di daerah Donggala dan Minahasa, pulau Sangir Talaud, dan di sekitar Gunung Awu akan tetapi tidak mempengaruhi kegiatan Gunung Awu yang ada dalam stadia istirahat.
TIPE LETUSAN GUNUNG AWU

Tipe letusan Gunung Awu sepanjang masa hingga 1966 ini serupa, tetap, konstan dan konsekuen dengan Tipe Letusan Gunung Kelut di Jawa.
Urutan jalan letusan adalah :
Fasa 1. Kawah Gunung Awu diisi air yang tiap terjadi letusan dilemparkan ke luar
Fasa 2. Air danau yang dilontarkan membentuk lahar letusan yang mengalir lewat jurang hingga laut, biasanya disertai dengan awan panas letusan
Fasa 3. Hujan abu dan hujan batuapung dimulai, disertai awan panas yang meluncur lewat jurang
Fasa 4a. Dalam Kawah
Terakhir hujan abu dan hujan batu, sebuah danau muncul pada pipa kawahnya, dasar kawah tertutup, lambat laun terjadi lagi sebuah danau
Fasa 4b. Di luar Kawah
Bahan letusan (ladu, abu dsb) yang terhimpun oleh letusan terakhir di hulu sungai disebabkan hujan dialirkan sebagai lahar ke laut

BATAS DAERAH BAHAYA
  • Daerah Bahaya
Batas daerah bahaya ini berdasarkan bahaya awan panas, aliran lava, lahar letusan dan lahar hujan, maupun bahaya bom diperkirakan meliputi :
-          Daerah yang dibatasi seluruh pantai di sekeliling gunung antar Taruna dan Kampung Sahabe
-          Di sebelah timur menenggara dibatasi oleh suatu garis perbatasan mulai dari Taruna melalui puncak Gunung Taruna, Gunung Pasong hingga di Kampung Sahabe di pantai timur.
Luas daerah ini sekitar 144,8 km2 dengan jumlah penduduk 24.100 orang (1973).
  • Daerah Waspada
Batas daerah waspada ini berdasarkan bahaya eflata dan merupakan daerah berbentuk lingkaran di luar daerah bahaya dengan jari-jari 8 km dengan titik letusan di kawah sebagai pusatnya. Sebagian besar daerah ini adalah laut, kecuali daerah sebelah timur menenggara antara Taruna dan Danau Utaurano. Luas daerah ini sekitar 55,3 km2 dengan jumlah penduduk 1.700 orang (1973).
  • Daerah Aman
Daerah aman yang dapat menjadi tempat berlindung yaitu
-          Kampung Talaud yang terlindung oleh beberapa bukit yang menghalangi serangan awan panas dan lahar, yaitu bukit Burude Dipahe, Br. Bio dan Br. Bowongguwe
-          Akembahi yang terlindung oleh Burude Laeke, Hope dan Banewa.
-          Daerah aman lainnya yaitu daerah antara Kampung Tabuhan Lama – Talolang – Pasih – Lengganeng – Taruna karena terlindung oleh bukit Lepu Sehengbaliba – Posong dan Baku.

GUNUNG ARGOPURO

Argopura bisa diartikan “Gunung Pura” atau barangkali bisa disebut Pura di Puncak Gunung, seperti banyak ditemukannya struktur bangunan berarsitek mirip Pura (tempat peribadatan umat Hindu) dikawasan puncak, berawal dari situlah gunung ini beroleh nama Argopuro. sisa-sisa reruntuhan itu masih nampak jelas, ada beberapa situs purbakala di sekitar kawasan puncak Argopuro.



kawasan puncak yang dimaksud meliputi ketinggian 3.000 meter dari permukaan laut ke atas, yang didalamnya mencakup areal seluas hampir satu km persegi, yang didalamnya terdapat komplek bukit dan alun-alun, komplek kawah dan komplek candi.
Komplek bukit dan alun-alun merupakan pintu masuk kawasan puncak, sebuah alun-alun yang luas dipegunungan Hyang Argopuro. Alun-alun ini dibatasi langsung oleh sebuah kawah dengan lubang dalam., sedangkan disebelah timur masih terdapat lima kawah, baik lubang maupun tempat yang dinamakan alun-alun SIJEDING.
Komplek candi yang dimaksud bukan candi dalam arti sebenarnya, melainkan nerujuk dari jenis peninggalan dan struktur bangunan sejarah kepurbakalaan yang terdapat di gunung ini. Jumlah seluruhnya ada tujuh komplek meliputi situs kolam dan taman sari, Situs Puncak Rangganis, dua bangunan candi, dan tiga bangunan pura.
Masyarakat sekitar lebih mengenal Rengganis ketimbang Argopuro. Rengganis sebuah nama seorang DEWI yang begitu melekat di hati masyarakat kaki gunung Argopuro. Konon menurut legenda penduduk setempat, dari sanalah Dewi Rengganis tinggal dan memerintah kerajaannya. Diceritakan pula bahwa alun-alun Rawa Embik adalah sebuah padang rumput dibawah alun-alun puncak adalah sumber mata air yang terus mengalir sepanjang tahun. Tempat itu merupakan padang penggembalaan hewan ternak yang mensuplai kebutuhan keraton di puncak.
Dituturkan bahwa Dewi Rengganis adalah salah seorang Putri dari Prabu Brawijaya yang lahir dari salah satu selirnya. Karena tidak diakui keberadaannya, pada saat dewasa ia didampingi seorang Patih dan pengikut-pengikutnya yang setia melarikan diri dan mendirikan kerajaan keraton di puncak gunung ini.
Diperkirakan puing-punig yang terdapat di Rengganis suatu peninggalan tertinggi yang ditenui di Pulau Jawa adalah bekas Kuil Hindu abad ke 12 Masehi. Situs Rengganis memperlihatkan aspek rancang bangun jaman prasejarah dan jaman klasik akhir di pulau Jawa. Salah satu hal yang paling menonjol dari peninggalan kepurbakalaan di Rengganis, adanya tembok pagar luar yang mengelilingi bangunan serta struktur bangunan lebih memperlihatkan struktur Pura daripada Candi.
Satu hal yang tidak dijumpai pada peninggalan kepurbakalaan masa Majapahit akhir yang berada di gunung-gunung lain seperti Gunung Penanggungan, dan Gunung Arjuna. Benarkah struktur bangunan yang disebut PURA sesuai dengan Pura dalam arti dan fungsi yang sesungguhnya pada saat ini? Ataukah Pura itu adalah sebuah Candi dengan model lain. Benarkah Komplek kuno yang ada dalam pesantren dimana para Resi, Pendeta atau Biarawan menghabiskan waktu untuk tinggal dan belajar di Puncak ini?
Ataukah memang suatu komplek keraton?
Tempat peribadatan disini belum bisa memastikanbentuk tradisi dari aliran dan sekte apa para Rahib itu semua. Terlepas apakah itu keraton atau karesian dapatkah dibayangkan bagaimana Perikehidupan dan aktifitas yang dilakukan sehari-hari di Puncak Gunung yang indah, dingin, dan terpencil itu pada jaman alam masih liar yang waktu itu masih buas.
Legenda tinggallah cerita turun temurun dari mulut ke mulut yang semakin bias dan sulit dibuktikan secara ilmiah. Hipotesa dari penyelidikan terdahulu belum seluruhnya terbukti. Sebagian besar data masih berupa misteri dan beberapa benda-benda bernilai sejarah itu telah hilang dan dihancurkan. Menurut penduduk sekitar sekitar tahun 80-an Situs Purbakala di Gunung Argopuro masih nampak terawat dan masih belum banyak benda yang hilang, selepas itu kini situs Purbakala itu semakin rusak, kotor dan bangunan dengan teras-teras berdinding batu itu tinggalah batu-batu berserakan yang dihiasi bungkus mie instan. Sejumlah Arca dari Gunung ini telah terpencar oleh ulah orang-orang yang tak bertanggungjawab sebagian ada yang ditemukan di Gunung Semeru dan tempat lainnya. Justru para peziarah lokal yang memberi sesajen persembahan dan membersihkan lingkungan ini, secara tidak langsung telah menjaga dan merawat keberadaan benda-benda yang bernilai sejarah.
Masih terselubung kabut dan misteri dari reruntuhan bangunan kuno yang dingin dan diam itu telah membuktikan bahwa bangsa kita telah Religius, Berilmu Pengetahuaan, Berbudaya dan Berseni sejak lama.