Saturday, March 2, 2013

MANAJEMEN PERJALANAN ALAM BEBAS


Dorongan untuk melakukan petualangan di alam bebas menyebabkan para penggiatnya melakukan berbagai kegiatan perjalanan, mulai dari pendakian gunung, penyusuran pantai, pengarungan sungai berarus deras, dll. Perjalanan tsb dilakukan dengan berbagai tujuan mulai dari eksplorasi, survey maupun hanya untuk berjalan-jalan. Semua perjalanan tsb memerlukan persiapan yang baik, mengingat kegiatan di alam bebas seperti ini menghadapkan kita pada berbagai kondisi alam yang apabila tidak kita ketahui dengan baik akan menghadapkan kita pada keadaan yang dapat membahayakan jiwa kita, dan sebaliknya bila kita pahami akan memberikan kenikmatan berpetualang pada penggiatnya. Agar perjalanan di alam bebas dapat berjalan sesuai dengan rencana kita, ada beberapa hal yang perlu dilakukan :
  1. Tujuan, Merumuskan suatu tujuan haruslah berdasarkan realita, tidak boleh terlalu ambisius. Tujuan haruslah disesuaikan dana yang telah tersedia, kemampuan anggota, dan waktu. Setiap anggota harus mengetahui dengan jelas tujuan perjalanannya, hal ini untuk menghindari kesalahpahaman yang mungkin akan terjadi.
  2. Waktu, Apakah waktu yang ditetapkan bisa diikuti oleh semua anggota ? perencanaan perjalanan alam bebas harus pula memperhitungkan kalender kuliah atau pekerjaan anggota anggotanya. Hal lain yang harus diperhatikan adalah musim pada saat pelaksanaan perjalanan alam bebas tsb.
  3. Peserta Jumlah anggota yang ikut haruslah ditetapkan dengan beberapa pertimbangan, berapa orang yang dapat dilibatkan dengan fasilitas transportasi yang ada ? berapa orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tujuan berdasarkan keahlian, pengalaman dan minat peserta bekerjasama eegentk sesuai dengan ae iitanuyan’ iklnpdnlak k untuk menentukan itu semua maka seleksi haruslah dilakukan. Tentukan koordinator perjalanan (leader), bidang-bidang koordinasi, subkoordinasi, seperti bidang dana, publikasi dan dokumentasi, perlengkapan akomodasi, logistik, medis dll. Koordinator perjalanan haruslah dipilih dari orang-orang yang berwibawa dan punya pengalaman sebagai pemimpin. Dia tidak harus seorang pendaki yang hebat, tetapi yang lebih penting lagi adalah yang mampu mengkoordinasi pendakian tsb.
  4. Anggaran Keuangan, Dalam menyusun keuangan, beberapa hal harus diperhitungkan, antara lain kemungkinan situasi ekonomi negara kita, seperti inflasi, perubahan kurs mata uang asing. Sebagai contoh ekspedisi Indonesia ke Himalaya beberapa tahun yang lalu tidak jadi berangkat hanya beberapa hari sebelum pemberangkatan karena terjadi inflasi. Kemungkinan lain adalah tidak tercapainya dana yang dibutuhkan. Alokasi dana atau perjalanan harus tepat dan masuk akal. Buatlah anggaran yang terperinci untuk setiap bidang. Pengeluaran dan pemasukan uang hanya berhak dilakukan oleh satu orang, mis bendahara atau pemimpin perjalanan.
  5. Perijinan, Setiap daerah atau negara mempunyai peraturan perijinan yang berbeda. Izin ini tergantung juga pada sifat ekspedisi yang akan dilakukan :untuk penelitian, wisata, pembuatan film, atau petualangan. Demikian pula apabila perjalanan itu gabungan dengan pihak luar negeri,bagaimana prosedurnya haruslah diperhitungkan.
  6. Pembukuan Perjalanan, Pembukuan sebaiknya dilakukan secepatnya, kalau perjalanan itu dilakukan pada masa liburan mis, pembukuan harus dilaksanakan jauh-jauh hari sebelum kehabisan tiket. Kalau suatu lembaga memastikan akan memberikan bantuan transportasi tentulah kita tidak akan kesulitan , tinggal menentukan tanggal keberangkatan yang pasti.
  7. Sponsor dan Publikasi, Adakalanya pencantuman seorang penasehat atau pelindung dalam organisasi perjalanan dilakukan dengan pertimbangan diplomatis, yaitu untuk mendukung organisasi itu dalam usaha untuk mencari kemudahan fasilitas atau lainnya.Publikasi di media massa seringkali penting dan berkaitan erat dengan usaha pengumpulan dana. Seorang yang bertanggung jawab atas publikasi perlu ditunjuk. Dia harus pandai berhubungan dengan pihak luar dan menarik minat pers untuk menyiarkan ekspedisi ini baik di koran, majalah, radio maupun televisi. Siaran pers harus disiapkan secara menarik lengkap dengan foto atau gambar.
  8. Penelitian dan Perencanaan Perjalanan, Perencanaan terperinci harus dilakukan oleh setiap bidang. Kalau memang memungkinkan ada baiknya mengirimkan satu kelompok pendahulu untuk dilakukan survey lokasi, yang bertugas mencari informasi tentang lokasi. Tinggi gunung, tumbuh-tumbuhan yang ada, arus sungai, temperatur, adat istiadat penduduk setempat, semua informasi tsb haruslah diketahui. Team survey harus juga mencari informasi tentang camp induk yang akan didirikan dan untuk melapor pada pejabat setempat, tidak lupa menghubungi puskesmas atau dokter setempat (untuk bekerja sama apabila ada kecelakaan dalam perjalanan). Bila survey tidak bisa dilaksanakan pencarian informasi bila dilakukan dengan bertanya kepada orang yang sudah pernah berekspedisi ke sana, membaca buku atau mempelajari peta. Dengan terkumpulnya seluruh informasi kita dapat merencanakan perjalanan sematang mungkin. Lakukanlah pengecekan dan konfirmasi seluruh informasi apa yang telah masuk. Checklist perlengkapan disesuaikan dengan kondisi lokasi, buatlah daftar peralatan yang harus dibawa oleh individu atau kelompok. Pastikan tiap anggota membawa P3K dan obat-obatan pribadi.
  9. Perencanaan di Lapangan, Kegiatan di lapangan harus sudah jauh-jauh hari disiapkan. Dirumuskan secara terperinci dalam schedule. Susunlah rencana itu dalam suatu jadwal khusus hari per hari. Tetapkanlah waktu yang diperlukan untuk mencapai target/ tujuan perjalanan, serta strategi yang akan digunakan dan rute yang akan ditempuh, serta tempat menginap/ bivoak.
  10. Briefing, Seluruh anggota perjalanan akhirnya dikumpulkan untuk menerima briefing. Pada kesempatan ini, pimpinan perjalanan menjelaskan segala sesuatu yang berkenaan dengan perjalanan antara lain : tujuan, lokasi, kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, metode dan strategi di lapangan dsb, kalau perlu dalam kesempatan ini diadakan pula ceramah oleh para ahli untuk menjelaskan tentang lokasi dari segi geologi atau antropologi. Kesempatan ini juga dapat dilaksanakan untuk mengenal dan mengadakan latihan pemakaian peralatan baru.
  11. Check Kesehatan Pastikan semua anggota telah melakukan check kesehatan. Usahakan mendapat vaksinasi untuk mencegah demam, tuberculoses, serta anti tetanus.
  12. Pelaksanaan di Lapangan, Dalam tahap ini pemimpin perjalanan langsung menangani pelaksanaan perjalanan. Pimpinan harus pandai menekankan kepada anggota-anggotanya bahwa keberhasilan suatu perjalanan ditentukan oleh kemampuan setiap anggota untuk belajar tinggal dan bekerjasama sebagai suatu kelompok yang utuh, pada setiap kesempatan lakukanlah pertemuan untuk mengadakan evaluasi dan diskusi mengenai masalah-masalah yang dihadapi. Berilah kesempatan setiap bidang untuk melaporkan setiap kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan, sehingga setiap anggota akan dapat mengetahuinya.
  13. Setelah Perjalanan (Evaluasi), Tahap ini adalah anti klimaks, sehingga kegiatannya seringkali terulur-ulur, bahkan tak jarang dilupakan. Baiknya membuat laporan perjalanan. Kalau memungkinkan kirimkanlah ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran perjalanan. kembali ke atas.
 II. PERLENGKAPAN dan PERBEKALAN
Keberhasilan suatu perjalanan di alam bebas ditentukan juga oleh perencanaan perlengkapan dan perbekalan yang tepat. Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :
  1. Menentukan tujuan perjalanan. Misal : sekedar jalan jalan, latihan, penelitian.
  2. Mengetahui informasi dan data tentang jenis medan yang akan di hadapi. Misal : salju ,tebing dll.
  3. Mengetahui lama perjalanan.
  4. Keterbatasan kemampuan membawa.
  5. Memperhatikan hal-hal khusus, mis : obat-obatan tertentu. Setelah mengetahui hal-hal tsb, maka kita dapat memilih perlengkapan dan perbekalan yang sesuai dan selengkap mungkin, tetapi bebannya tidak melebihi kemampuan membawanya. Perhitungan beban total untuk perorangan tidak boleh melebihi sepertiga berat badan (sekitar 15 – 20 kg).
Perlengkapan perjalanan alam bebas dapat dikelompokan sbb :
  1. Perlengkapan dasar, meliputi : Perlengkapan untuk pergerakan. Perlengkapan untuk memasak, makan, minum. Perlengkapan untuk MCK Perlengkapan pribadi.
  2. Perlengkapan khusus, yang disesuaikan dengan perjalanan : Perlengkapan penelitian, (kamera, buku, alat tulis) Perlengkapan pendakian tebing (kernmantel, karabiner)
  3. Perlengkapan tambahan Perlengkapan ini dapat dibawa atau tidak, mis : semir, syal kembali ke atas Sebaiknya perlengkapan disusun terlebih dahulu pada sebuah check list, perlengkapan dikelompokan kemudian di teliti kembali apa yang perlu dibawa atau tidak. Pisahkan antara perlengkapan kelompok dan individu, serta diskripsikan siapa saja yang membawa perbekalan.Apakah semua perlengkapan dan perbekalan kita bawa sejak awal ataukah diperoleh dalam perjalanan.
III. PERENCANAAN PERBEKALAN
Yang perlu diperhatikan :
  • Lamanya perjalanan yang akan dilakukan.
  • Aktivitas yang akan dilakukan.
  • Keadaan medan yang akan dihadapi
Sehubungan dengan hal di atas, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan:
  • Cukup mengandung kalori,
  • Mempunyai komposisi gizi,
  • Serta tidak asing di lidah,
  • Terlindung dari kerusakan, tahan lama, mudah dan sederhana dalam penangannya Sebaiknya makanan yang siap pakai.
IV. PACKING
Dalam penyusunan, yang menjadi dasar adalah keseimbangan beban, bagaimana kita menumpukan berat beban pada tubuh sedemikian rupa sehingga kaki dapat bekerja secara efisien. Dalam batas-batas tertentu, rangka yang dimiliki oleh ransel banyak memberikan kenyamanan. Rangka ini membuat posisi tubuh lebih menyenangkan saat menggendong beban. Namun bagaimanapun desain ransel yang dimiliki akan sedikit artinya apabila anda tidak mampu menyusun barang-barang anda dengan baik.
Beberapa hal yang harus diperhatikan :
  • Tempatkan barang-barang yang lebih berat paling atas dan sedekat mungkin dengan badan.
  • Barang-barang yang relatif lebih ringan (sleeping bag, pakaian tidur) ditempatkan di bagian bawah.
  • Letakkan barang-barang yang sewaktu-waktu diperlukan pada bagian paling atas atau pada kantong luar ransel (ponco, alat P3K, kamera, dll).
  • Kelompokkan barang-barang dan masukkan ke dalam kantong-kantong plastik yang tidak tembus air, terutama pakaian tidur/ cadangan, pakaian dalam, kertas-kertas.
  • Sekali lagi, buatlah check list dari semua perlengkapan. Kalau mungkin dengan beratnya agar dapat dengan mudah menyusunnya
A. Perlengkapan Jalan (untuk medan gunung hutan)

1. Sepatu 
  • Mempunyai kegunaan sesuai dengan kebutuhan perjalanan.
  • Sesuai dengan bentuk dan ukuran kaki
  • Harus kuat untuk pemakaian yang berat
Untuk medan gunung hutan diperlukan sepatu :
  • Melindungi telapak kaki sampai mata kaki
  • Kulit tebal, tidak mudah sobek
  • Lunak bagian dalam, masih memberikan ruang bagi gerak kaki
  • Keras bagian depannya, untuk melindungi jari kaki (tidak dianjurkan memakai sepatu pekerja tambang, yang bagian depan sepatu sangat keras karena dilapisi dengan besi, selain berat juga akan merusak jari kaki jika ada perubahan suhu)
  • Bentuk sol bawahnya harus dapat menggigit tanah ke segala arah dan cukup kuat.
  • Ada lubang ventilasi, yang bersekat halus sehingga air dan udara lewat untuk pernafasan kulit telapak kaki.
2. Kaus Kaki
Yang perlu diperhatikan : menyerap keringat. Gunanya :
  • Melindungi kulit kaki dari pergesekan dengan kulit sepatu.
  • Menjaga agar kulit kita tetap dapat bernafas.
  • Menjaga agar kaki tetap hangat pada daerah yang dingin.
3. Celana Jalan
Yang perlu diperhatikan :
  • Kuat, lembut
  • Ringan
  • Tidak mengganggu gerakan kaki, jahitannya cukup longgar
  • Praktis
  • Terbuat dari bahan yang menyerap keringat
  • Mudah kering, bila basah tidak menambah berat
    Bahan celana yang terbuat dari katun cukup baik, tidak terlalu tebal, tahan duri, mudah kering.
4. Baju Jalan
Yang perlu diperhatikan :
  • Melindungi tubuh dari kondisi seikitar
  • Kuat
  • Ringan
  • Tidak mengganggu pergerakan
  • Terbuat dari bahan yang menyerap keringat
  • Praktis
  • Mudah kering
5. Topi Lapangan
Yang perlu diperhatikan :
  • Melindungi kepala dari kemungkinan akibat duri
  • Melindungi kepala dari hujan, terutama kepala bagian belakang.
  • Harus kuat dan tidak mudah robek, untuk medan gunung hutan dianjurkan memakai topi rimba atau semacam topi Jepang.
6. Sarung Lapangan
Yang perlu diperhatikan :
  • Sebaiknya terbuat dari kulit
  • Bentuknya sesuai dengan tangan kita
  • Tidak kaku, artinya tidak menghalangi gerakan tangan.
7. Ikat Pinggang
Pilihlah yang terbuat dari bahan yang kuat, dengan kepala yang tidak terlalu besar tetapi teguh. Selain menjaga agar celana tidak kendur, juga untuk meletakan alat-alat yang perlu cepat dijangkau seperti pisau pinggang, tempat air minum, tempat alat-alat P3K, dll.
8. Ransel / Carrier
  • Ringan, Sejauh mungkin tidak merupakan tambahan beban yang berlebihan, terbuat dari bahan yang water proof.
  • Kuat, harus mampu membawa beban dengan aman, berdaya tahan tinggi, tidak mudah robek, jahitannya tidak mudah lepas, zippernya cukup kokoh, dsb.
  • Nyaman dipakai, dianjurkan agar memakai ransel yang mempunyai rangka, agar berat beban merata dan seimbang. Selain itu juga membuat kenyamanan karena adanya ventilasi antara tubuh/punggung dengan ransel.
  • Praktis, kantung-kantung tambahan serta pembagian ruangan akan memudahkan untuk mengambil barang-barang tertentu.
9. Peralatan navigasi
- Kompas, peta, penggaris segitiga, busur derajat, pensil, dll.
10. Lampu Senter
  • Dengan bola lampu dan baterai cadangan
11. Peluit
12. Pisau 
  • Pisau saku serbaguna (multi blade) seperti Victorinox
  • Pisau pinggang
  • Golok tebas
B. Peralatan Tidur
  • Satu set pakaian tidur
  • Kaus kaki untuk tidur
  • Sleeping bag
  • Matras
  • Tenda/ponco/flysheet untuk bivak

C. Perlengkapan Masak dan Makan 
  • Alat-alat makan
  • Alat pembuat api (lilin, spirtus, dll)
  • Kantung air / tempat air
Perencanaan Perbekalan
Dalam perencanaan perjalanan, perencanaan perbekalan merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
  1. Lamanya perjalanan yang akan dilakukan
  2. Aktifitas apa saja yang akan dilakukan
  3. Keadaaan medan yang akan dihadapi (terjal, sering hujan, dsb)
Sehubungan dengan keadaan diatas, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam merencanakan perjalanan:
a. Cukup mengandung kalori dan mempunyai komposisi gizi yang memadai.
b. Terlindung dari kerusakan, tahan lama, dan mudah menanganinya.
c. Sebaiknya makanan yang siap saji atau tidak perlu dimasak terlalu lama, irit air dan bahan bakar.
d. Ringan, mudah didapat
e. Murah
Untuk dapat merencanakan komposisi bahan makanan agar sesuai dengan syarat-syarat diatas, kita dapat mengkajinya dengan langkah-langkah berikut :
  1. Dengan informasi yang cukup lengkap, perkirakan kondisi medan, aktifitas tubuh yang perlukan, dan lamanya waktu. Perhitungkan jumlah kalori yang diperlukan.
  2. Susun daftar makanan yang memenuhi syarat diatas, kemudian kelompokan menurut komposisi dominan. Hidrat arang, ptotein, lemak, hitung masing-masing kalori totalnya (setelah siap dimakan).
  3. Perhitungan untuk vitamin dan mineral dapat dilakukan terakhir, dan apabila ada kekurangan dapat ditambah tablet vitamin dan mineral secukupnya.
Catatan :
Kandungan kalori :hidrat arang4 kal/gr
lemak9 kal/gr
protein4 kal/gr
Kalori paling cepat didapat dari :
1. Hidrat arang
2. lemak
3. protein
Kebutuhan kalori per 100 pounds berat badan (sekitar 45 kg)
1Metabolisme basal1100 kalori
2Aktifitas tubuh :
  • Jalan Kaki
2 mil/jam45 kal/jam
3 mil/jam90 kal/jam
4 mil/jam160 kal/jam
  • Memotong kayu/tebas
260 kal/jam
  • Makan
20 kal/jam
  • Duduk (diam)
20 kal/jam
  • Bongkar pasang ransel, buat camp
50 kal/jam
  • Menggigil
220 kal/jam
3Aktifitas dinamis khusus= 6 – 8 % dari 1 dan 2
4Total kalori yang dibutuhkan= 1 + 2 + 3

Jenis Bahan Makanan dan Macam Makanan
Sumber kalori dari hidrat arang tiap 100 gram
Beras giling360 kalNasi178 kal
Havermout390 kalKentang90 kal
Singkong140 kalMacaroni363 kal
Maizena343 kalRoti248 kal
Tape singkong173 kalGaplek363 kal
Biskuit458 kalSagu353 kal
Terigu365 kalUbi123 kal
Gula pasir364 kalGula aren368 kal
Madu294 kalCoklat pahit504 kal
Coklat manis472 kalCoklat susu381 kal
Sumber Protein (tiap 100 gram)
Tempe119 kla
Kacang tanah rebus dengan kulit360 kal
Telur ayam162 kal
Telur bebek189 kal
Sumber protein dan lemak (tiap 100 gram)
Corned241 kal
Daging asap191 kal
Dendeng433 kal
Sardens338 kal
Menu makanan satu hari :
Mie 1.5 gelas335 kal
Susu kental manis ½ gelas336 kal
Dodol ½ ons200 kal
Coklat 1 ons472 kal
Nasi 2 ons360 kal
Roti 1 ons248 kal
Biscuit 1 ons458 kal
Corned ½ ons120 kal
Dendeng 1 ons433 kal
TOTAL2962 kal
Perlengkapan Perorangan :
1. Carrier / Ransel
2. Matras
3. Rain coat / ponco
4. Sleeping Bag
5. Perlengkapan makan & minun
6. Baju hangat / jaket + baju ganti (cadangan)
7. Sepatu gunung + kaos kaki cadangan
8. Senter (Baterai + bohlam cadangan)
9. Kupluk + topi rimba, sarung tangan
10. Obat-obatan pribadi
11. Kompas, webbing, tali
12. Logistik
13. Lilin
14. Pisau serba-guna / Victorinox
Perlengkapan Team :
1. Tenda
2. Peralatan masak
3. P3K
4. Trash Bag
5. Golok Tebas

PENGERTIAN DAN SEJARAH CAVING


Pengertian dan Sejarah Penelusuran Gua 'Caving' yakni Caving berasal dari kata Cave= Gua. Sedangkan orang yang menelusuri gua disebut caver. Jadi caving bisa diartikan sebagai kegiatan penelusuran gua yang mana merupakan salan satu bentuk kegiatan dari Speleologi. Sedangkan Speleologi secara morfologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu : Spalion = Gua dan Logos = ilmu. Jadi, secara harfiah Speleologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang gua, tetapi karena perkembangan speleologi itu sendiri, spleologi juga mempelajari tentang lingkungan disekitar gua. 


Ada Beberapa Pengertian Penelusuran Gua "Caving' menurut para ahli Penemu mamupun para Caver, yakni : 
  1. Menurut IUS (International Union of Speleology) anggota komisi X UNESCO PBB : “Gua adalah setiap ruang bawah tanah yang dapat dimasuki orang”.
  2. Menurut R.K.T.ko (Speleologiawan) : “Setiap ruang bawah tanah baik terang maupun gelap, luas maupun sempit, yang terbentuk melalui system percelahan, rekahan atau aliran sungai yang membentuk suatu lintasan aliran sungai dibawah tanah.”
Adapun Sejarah Penelusuran Gua 'Caving', yang dimulai dari tahun ke tahun, yakni : 


  1. Penelusuran Gua dimulai oleh John Beaumont, ahli bedah dari Somerset, England (1674) ia seorang ahli tambang dan geologi amatir.
  2. Orang yang paling berjasa mendeskripsikan gua-gua antara tahun 1670-1680 adalah Baron Johann Valsavor dari Slovenia. Ia mengunjungi 70 goa, membuat peta, sketsa dan melahirkan buku setebal 2800 halaman.
  3. Joseph Nagel, pada tahun 1747 berhasil memetakan system perguaan di kerajaan Astro-Hongaria.
  4. Stephen Bishop, pemandu wisata gua yang paling berjasa dan membawa gua Mammoth diterima UNICEF sebagai warisan dunia.

RAFTING (ARUNG JERAM)


Rafting 'Arung Jeram' tergolong cukup popular ditanah air kita, diarena-arena bertaraf internasional macam SEA GAMES, dayung merupakan tambang emas bagi atlit-atlit kita dalam merebut medali. Tetapi olahraga Rafting  'Arung Jeram'  ini tidak hanya digemari oleh mereka yang benar-benar atlit. Anak-anak muda yang menyebut dirinya pecinta alam pun suka aktivitas ini. Dan mulai melibatkannya dalam aktivitas outdoor mereka. Bahkan sejak awal decade 70-an

Sebenarnya urusan dayung mendayung ini kalau dilihat dari media dimana aktivitas ini dilakukan digolongkan menjadi dua yaitu :
  1. Rafting  'Arung Jeram'   di air tenang (flat atau slack water)
  2. Rafting  'Arung Jeram'   Arus Deras (wild atau white water)



Kedua Golongan Arum Jerang (Dayung) memilki keunikan sendiri-sendiri. Akan tetapi kedua memiliki dasar-dasar teknik yang sama dalam mendayung.
  1. Rafting  'Arung Jeram'  Arus Tenang
    Berbicara dalam konteks Arum Jerang (Dayung) Arus Tenang tidak dapat terhindarkan untuk membicarakannya dalam term kompetisi. Kompetisi yang dilakukan diarus tenang secara umum dikategorikan dalam tiga nomer yaitu :
    • Kano
    • Rowing
    • Tradisional
    Masing-masing kategori memiliki spesialisasi sendiri-sendiri
    • Kano, Menurut jenis perahu yang dipergunakan, kano dibagi dalam dua kategori yaitu : Racing dan Touring Norner yang sering dipertandingkan dalam olah raga kano ini antara.lain
    −    Kayak 1(K1) 500m dan 1000m

    −    Kayak 2 (K2) 500m dan 1000m

    −    Kayak 4 (K4) 500m dan 1000m

    −    Canadian Cano 1 (C1) 500m dan 1000m

    −    Canadian Cano 2 (C2)500m dan 1000m
    • Rowing, Nomer Rowing semua menempuh jarak 2000m. Nomer rowing yang paling bergengsi adalah Single Scull dan Double Scull
    • Tradisional , Nomer ini merupakan warisan bangsa yang dilestarikan hingga kini. Misalkan pertandingan tradisional di sungai Musi, Perahu Naga di Hongkong, S-11 dl.
  2. Rafting  'Arung Jeram'  Arus Deras
Di Indonesia istilah yang baku untuk kegiatan alam bebas Rafting  'Arung Jeram'  ArusDeras ini belum ada (belum ada keseragaman bahasa). Wanadri menyebutnya ORAD (Olahraga Arus Deras), Anak Mapala UI menyebutnya ORAJ (Olahraga Arung Jeram), sedangkan anak ARANYACALA Trisakti menyebut dengan terminologi Arus Sungai. Ketidak seragaman ini bisa memiliki konotasi yang berbeda-beda. Tapi sejauh ini memang belum pernah ada upaya penyeragaman.
Orang-orang daratan Eropa dan Amerika secara umum menyebut kegiatan ini White Water Sport, atau juga sering dipergunakan istilah Terminologi White Watering. Di Amerika olahraga ini sudah dilakukan sejak abad 19. Sebagai contoh pengarungan sungai Colorado yang pertama dilakukan oleh Mayor John Wesly Powel tahun 1869. Ia menempuh jarak 250 mil melintasi gugusan tebing-tebing raksasa yang bercadas kritis, yang kemudian diberi nama Green Canyon. Powel melakukanya dengan perahu kecil yang tersusun atas papan kayu.
Di manca negara kegiatan ini sudah lahir sebelum negeri kita merdeka. Jauh sebelumnya sekitar satu abad. Tentu saja jika dibandingkan dengan pusat kegiatan penuh tantangan ini, Eropa dengan Amerika perkembangan arung jeram di tanah air masih seumur jagung, sebab olah raga ini baru dilirik orang sekitar awal decade 70-an. Tidak terelakkan lagi, dua kubu pergerakannya adalah Wanadri dan Mapala UI. Meskipun sejarah perkembangannya tidak terpaut jauh dengan sejarah pendakian Gunung Es atau Gunung Salju, namun prestasi yang berhasil diraih anak-anak Indonesia masih dalam biasa-biasa saja. Ini terbukti dari produktivitas yang teramat rendah dari para kelompok yang suka berpetualang di alam bebas dalam mengarungi sungai-sungai yang masih perawan, yang berjumlah ratusan bahkan ribuan di Tanah Air kita
Sejauh ini Olahraga Rafting  'Arung Jeram'  di indonesia baru beberapa sungai yang popular antara lain: Sungai Progo, Serayu, Cimanuk, Cisadane, Citanduy, Cimandiri, Citatih, Alas, Tripa dll. Itu dilakukan dalam masa dua dekade. Sungguh produktivitas yang amat rendah. Diakui atau tidak. Sebenarnya latar belakangnyapun sangat kompleks, sehingga rasanya tidak fair jika tudingan diatas terlalu ditonjolkan. Hal ini menjadi bahan diskusi yang menarik yang tidak habis diperbincangkan dalam satu atau dua hari. Secara sangat subyektif, prestasi diatas termasuk membanggakan, terutama untuk Palapsi UGM. Progo, Serayu, Tripa, Bogowonto, Elo, Carama, Mamasa, Padegolan, dibuka dan dipelopori oleh Palapsi. Sedangkan yang lain dibuka oleh Mapala UI dan Wanadri. Sedangkan sungai yang lain: Alasa dan Saddang dibuka oleh kelompok arung jeram paling handal dari negeri Paman Sam, Sobek Expedision Inc. Secara obyektif, Palapsi memberi kontribusi yang berarti dalam mengukir perkembangan kegiatan ini di Tanah Air.

MASALAH YANG DIHADAPI KETIKA SURVIVAL



merupakan masalah yang selalu hadir dan selalu dihadapi dalam Kegiatan Survival, Masalah- Masalah ini adalah masalah yang tidak bisa dan tidak mudah untuk dihindari dan terhindar dari kegiatan Survival.
Masalah Yang Sering Dihadapi Ketika Survival yang sering di hadapi dalam kegiatan Survival, yakni : 
  1. Masalah Alam (Cuaca, Keadaan Medan dll)
    Masalah dalam hal ini yang sering muncul, yakni :
    • Faktor Dingin Penurunan suhu tubuh lebih dari 350 dapat menyebabkan kematian. Penurunan suhu tubuh dari suhu normal ini biasa disebut Hypothermia/Hipotermia Cirri-ciri Hypothermia : 
      • Badan menggigil kedinginan 
      • Bibir, ujung jari dan telinga terasa dingin dan membiru (pucat) 
      • Kaku dan terasa sulit saat berbicara (kondisi ini menunjukan penderita mengalami tahap kritis/parah) Pencegahannya :
        Mengganti energy melalui metabolisme tubuh
        Membuat bivak/shelter
        Menyalakan/membuat perapian (api unggun)
        Usahakan untuk mencari pertolongan secepatnya

    • Faktor Panas Menurut beberapa ahli “panas jarang menyebabkan kematian tetapi bukan berarti tidak ada kematian yang disebabkan oleh panas”. Gangguan yang disebabkan panas diantaranya : 
      • Sunstroke (Sengatan Sinar Matahari) 
      • Sunburn (Terbakar Matahari) 
      • Sunblink (Buta Akibat Pantulan Matahari) 
      • Combustio (Luka Bakar) 
      • Heat Exhaustion (Kelelahan/Keletihan Karena Panas)
    • Dan Faktor-Faktor Lainnya 
      • Masalah Diri Sendiri
        1. Faktor Fisik
        2. Faktor Mental Adapun faktor keberhasilan survival diantaranya adalah sebagai berikut :
          Kebulatan tekad untuk tetap hidup Kepercayaan diri
          • Akal sehat dan inisiatif
          • Disiplin dalam rencana kegiatan
          • Alat survival yang memadai 
        3. Faktor Pengetahuan Dan Keterampilan
      • Masalah Makhluk Hidup Lainnya 
        1. Faktor Diri Sendiri Prinsip yang perlu untuk di ingat :
          • Hadapi situasi dengan tenang dan bijaksana
          • Istirahat untuk menghilangkan rasa cemas, takut dan panik
          • Perhatikan kondisi tubuh
          • Ingat pengetahuan yang dimiliki 
        2. Faktor Manusia Masalah yang berpengaruh adalah menghadapi manusia/penduduk asli, perlu di ingat :
          • Hormati adat istiadat setempat
          • Ikuti kebiasaan yang berlaku
          • Selalu bertindak dengan sopan. 
        3. Faktor Binatang Kenali sifat-sifat binatang, segera lakukan tindakan untuk menghindari hal-hal yang mengancam jiwa kita  
        4. Faktor Tumbuhan Jangan memakan tumbuhan yang ada sebelum yakin bahwa tumbuhan tersebut mengandung racu.

MANFAAT TUMBUHAN HUTAN DALAM KEADAAN SURVIVAL




dimana seorang dihadapkan pada kondisi sulit, dapat memanfaatkan tumbuhan selain untuk makanan dapat pula sebagai obat, bahan bakar, untuk membuat tempat berlindung dan tempat mencari air.

Tumbuhan Hutan bisa dijadikan Tumbuham obat atau simplisia nabati, banyak terdapat di Indonesia tetapi masih kurang dikenal dan diketahui khasiatnya oleh Manusia. Pengenalan dan Pemanfaatan obat masih secara tradisional dan disampaikan secara turun-temurun pada masyarakat Indonesia. 

Beberapa jenis Tumbuhan yang dapat dimanfaatkan dan dikonsumsi untuk dijadikan Obat maupun Keperluan lainya didalam hutan pada saat kondisi dalam keadaan Survival,  yaitu :

  1. Lumut hati, bila diamakan dapat digunakan sebagai obat hepatitis (Penyakit Hati) 
  2. Antanan atau Gagan (Kaki Kuda) daunnya bila dimakan atau dikunya, dapat sebagai obat Sakit Perut, Batuk, Asma dan Sariawan 
  3. Kaliandra, dauN dan biji mudanya dapat sebagai obat Sariawan 
  4. Sembung manis, jenis tumbuhan herbal yang daunnya dapat digunakan untuk sakit panas dan sakit perut.
  5. Kiurat, daunnya untuk obat luar, seperti luka dan salah urat (keseleo) 
  6. Numpong, daunnya dihaluskan untuk obat luka.
  7. Getah kamboja, untuk menghilangkan bengkak Masih banyak jenis tumbuhan obat yang berasal dari hutan, tetapi untuk penggunaannya harus dicampur dan diolah bersama jenis tumbuhan lainnya sehingga menjadi jamu untuk mengobati sakit tertentu 
  8. Untuk bahan bakar Kayu dan ranting kering, getah damar dan getah pinus yang mengandung terpetin. 
  9. Untuk membuat atap bivoak Daun anggrek tanah atau congkok, daun honje, daun pisang, daun pandan hutan, daun palem hutan, daun aren dan daun paku sarang burung yang biasa menempel pada hutan besar 
  10. Penimpan air Tumbuhan palem, bambu, rotan dan tali air atu liana yang biasa menggantung dari pohon ke pohon Tumbuhan juga dapat dimanfaatkan untuk membuat peralatan dan dijadikan arah pergerakan survivor.